Masih terkait dengan “Ampunilah kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.”
“Mudahkah bagi ‘njenengan’ menghidupi perintah Allah itu?” ujar sobat sebayaku, yang memilih tetap berdiri di depan gerbang, ketika kutawari masuk.
“Sulit dan bahkan sangat sulit,” jawabku. Melupakan yang terjadi dan telah menghunjam di ulu hati itu tidak mudah. Tapi sebenarnya yang lebih sulit itu adalah meminta maaf. Berapa banyak sudah kuhunjamkan luka kepada sesama? Berapa banyak yang terluka, karena kata dan perbuatanku? Kalau saya tidak mudah minta maaf untuk banyak luka yang telah saya buat, mengapa saya harus membuat syarat orang lain minta maaf dulu untuk dapat saya maafkan? Ah, jika begitu, Katolik macam apa saya ini?Dari itu, saya memilih memaafkan lebih dulu, walaupun orang itu tidak tahu dan saya minta bantuan Tuhan untuk menyampaikan maaf itu kepadanya, karena hati ini masih kesel juga, sih.
Tetep gayeng, walau sharing sambil sandar pagar. “Mas, pamit ya, sudah siang,” kata sobatku setelah
salaman .
Salam sehat.
…
Jlitheng

