Segala sesuatu dan segala hal yang dilakukan dengan total, maka hasilnya maksimal dan memuaskan.
“Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala-Nya” (Matius 8: 20).
Yesus tidak pernah merasa lelah: Dia berkeliling dan berbuat baik. Hidup-Nya taat kepada Bapa, dan didedikasikan untuk keselamatan manusia. Karena semangatnya itu, banyak orang yang tertarik untuk mengikuti-Nya.
“Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi” (Matius 8: 19).
Wow! Semangatnya luar biasa. Tapi yaitu, yang awalnya mempunyai semangat membara itu pada rontok semuanya. Tidak kuat. Tidak tahan. Tuntutannya luar biasa dan banyak tekanannya. Benar-benar melelahkan dan dibutuhkan totalitas.
“Tuhan, aku juga ingin mengikut Engkau, tapi izinkan aku pergi dulu menguburkan Ayahku” (Matius 8: 21). Ya, masih menawar. Perlu bijaksana untuk tidak menawar kepada Tuhan. Sebab yang diikuti adalah pribadi yang tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ketika sudah melangkah mengikuti-Nya: “Hanya Yesus, untuk dan dengan Yesus.” Dalam penyertaan-Nya untuk menggembalakan umat yang dipercayakan itu dibutuhkan totalitas.
Totalitas itu bukan kata yang membuat ragu, melainkan kata yang mendorong, menyemangati, dan menggerakkan.
Totalitas adalah suatu penyerahan diri secara total, karena sudah dipikirkan, dipertimbangkan, dan diukur semua resikonya.
Totalitas itu menempatkan pada pribadi yang bersangkutan untuk terus menyadari tugas utamanya.
Totalitas itu membentuk karakter setiap orang jadi pribadi yang matang dan dewasa.
Apakah para sahabat, sungguh dengan total mengikuti Yesus dan melaksanakan dengan total pelayanan yang telah dipercayakan itu? Bagaimana rasanya saat bisa melakukan semua itu dengan totalitas?
Tuhan memberkati.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

