Dalam kehidupan bermasyarakat, keputusan bersama sering kali diambil oleh kelompok yang kuat, dan mewakili suara mayoritas. Sementara kelompok kecil atau lemah sering dianggap gangguan dan tidak mendapatkan banyak perhatian.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan hal yang berbeda. Yesus menunjukkan perhatian dan kasih kepada kelompok kecil dan lemah yang digambarkan sebagai anak-anak yang berada di sekitar-Nya.
Ketika orangtua membawa anak-anaknya kepada Yesus, para murid mencoba mengusir mereka. Karena anak-anak ini dianggap sebagai gangguan. Tapi Yesus merangkul mereka dengan penuh kasih dan menegaskan, bahwa Kerajaan Allah milik orang-orang seperti anak-anak kecil itu.
Yesus mengasihi anak-anak, karena mereka memiliki sifat-sifat ketulusan, kepolosan, dan kepercayaan tanpa syarat yang jarang ditemukan pada orang dewasa. Anak-anak menerima kasih tanpa kecurigaan dan mengasihi tanpa pamrih. Sifat-sifat inilah yang dituntut oleh Yesus dari kita sebagai pengikut-Nya. Yesus mengajarkan, bahwa kelemah-lembutan dan kepolosan seperti anak-anak itu sangat dihargai di mata Tuhan. Kitab Sirakh dalam Bacaan Pertama menggambarkan keluhuran martabat manusia yang diciptakan Allah dengan indra yang lengkap dan akal budi.
Manusia diberi kemampuan untuk berpikir, membedakan yang baik dan jahat, serta menyatakan pendapat dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa setiap manusia, termasuk kelompok kecil dan lemah, memiliki harkat dan martabat yang sama di hadapan Allah.
“Allah Bapa Yang Maha Kasih, terima kasih Engkau telah menyadarkan kami untuk selalu terbuka pada kelompok yang kecil, lemah, tersingkir, dan difabel. Di dalam diri mereka itu kami belajar untuk jadi makin dekat dan menggantungkan seluruh hidup hanya kepada-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

