“Jika engkau mau mendapatkan sahabat, kajilah dia dahulu dan jangan segera percaya kepadanya.”
Nasihat Putra Sirakh itu wajib dicermati. Sebab, ada orang yang bersahabat, tapi tidak bertahan pada hari kesukaran, bahkan ada yang berubah jadi musuh. Sahabat sejati itu setia di saat kita menderita dan susah. Sahabat setiawan itu adalah perlindungan yang kokoh.
Begitu pula dengan memilih pasangan hidup dalam perkawinan itu lebih dari memilih sahabat, yaitu memilih belahan jiwa, bagian hidup. Sehingga perlu pertimbangan, penilaian yang matang. Tidak hanya berdasarkan pada rasa jatuh cinta semata. Karena pasangan hidup itu bersifat untuk selamanya sesuai hukum adikodrati, “Apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia”.
Memang tidak ada manusia yang sempurna, selalu ada kelemahan pada diri pasangan. Sehingga untuk yang tidak sempurna itu harus selalu ada pengampunan dalam kehidupan pernikahan. Pengampunan itu membuat keutuhan pasangan suami-istri terjaga.
Mari yang hidup dalam pernikahan ingat selalu akan janji pernikahan yang telah diucapkan, bahwa telah memilih pasangan secara bebas, penuh dan sadar untuk selalu setia dalam untung dan malang, dalam suka dan duka serta akan menghormati pasangan itu untuk seumur hidup.
“Tuhan Yesus, berkatilah seluruh keluarga Katolik agar setia pada janji pernikahan mereka di hadapan-Mu. Semoga mereka bisa menyelesaikan segala masalah keluarga masing-masing dengan bijaksana. Amin.”
Ziarah Batin

