Bagaimana mungkin harus mengampuni dia yang sudah melukaiku, fisik maupun batin dan membuatku jadi seperti ini?
Sulit dan sangat sulit bisa membayangkan manfaat ampunan, ketika kita merasa sakit hati dan marah, karena perbuatan orang lain terhadap kita. Kesediaan untuk mengampuni orang lain jadi lebih sulit, jika tidak ada permintaan maaf atau pengakuan bersalah dari pihak yang telah menyakiti kita.
Sulit memaafkan itu sering disebabkan anggapan, bahwa pengampunan itu adalah hadiah bagi orang yang telah menyakiti kita. Kita berpikir, bagaimana mungkin orang sudah bersalah kepada kita, lalu seenaknya mau diampuni! Padahal sebenarnya berani mengampuni adalah hadiah untuk diri kita sendiri. Ketika kita memilih mengampuni, kita menuai manfaat yang tidak terbatas.
Saya sulit mengurai lebih jauh, tapi cerita dari temanku ini mungkin sedikit menjelaskan:
“Sangat berat, ketika aku mau memutuskan untuk ikut atau tidak ikut agama suamiku. Semua terbayang, Ayah Ibu, semua kakak tidak setuju. Luka hati sudah terang terbayang, tetapi tetap kuputuskan, ikut suami.”
“Lama hubungan kami tidak baik, curiga, rasa bersalah, rendah diri mewarnai relasi kami. Pernah saya merasa diri seperti berkhianat. Sampai suatu ketika Bapak berkata, “Kamu tetaplah anakku, dan tetaplah kamu jadi anakku. Saya tahu, Ayah Ibuku tetap tidak setuju dengan keputusanku, tapi memberiku signal, bahwa mereka telah memaafkanku dan tidak sekalipun pernah mengungkit betapa menderitanya mereka.”
Subhanallah artinya Maha Suci Allah.
Mengampuni belum tentu sekali jadi, mungkin bahkan selama hidup. Maka Petrus bertanya, “Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku, jika ia berdosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat. 18: 21). Yesus menjawab lain. “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18: 22).
Mengampuni adalah jalan sunyi, yang membebaskan pikiran dan jiwa.
Salam sehat.
…
Jlitheng

