Saya mempunyai seorang sahabat Imam yang jadi orangtua, panutan, dan guru. Bulan Januari tahun yang lalu sehari setelah Pesta Pembaptisan Tuhan, beliau berpulang. Sekitar 30 menit sebelum meninggal, beliau mengatakan,” Tuhan Yesus sudah datang.”
Beliau adalah orang yang menjaga kekudusan diri, sukacita, dan jarang pernah marah. Beliau menghidupi hidup murni, taat, miskin, dan setia dalam kongregasi OMI. Yang paling mengesan bagi saya adalah beliau selalu merayakan Sakramen Pendamaian dan saya layani. Itulah jalan yang dianugerahkan Tuhan kepada seluruh anggota gereja-Nya untuk hidup dalam kekudusan.
Hawa nafsu manusiawi itu selalu menuntun kita pada perbuatan dosa. Oleh karena itu, Putra Sirakh menasihati, “Hati dan kekuatanmu jangan kauturuti untuk berlaku sesuai dengan hawa nafsumu.” Karena dari dalam hati bisa muncul kejahatan yang menggerakkan seluruh indra kita untuk menurutinya, sehingga jatuh dalam dosa. Putra Sirakh juga menasihati, supaya jangan menimbun dosa. Tuhan Yesus berpesan untuk selalu waspada dan berhati-hati terhadap kecenderungan yang menyesatkan dan membawa kita kepada dosa. Dengan merayakan Sakramen Pendamaian, kita merasakan belas kasih Allah. Namun, yang lebih penting dari bagian Sakramen itu adalah sikap untuk waspada dan tidak berbuat dosa lagi.
“Tuhan Yesus, mampukan kami mengatasi hawa nafsu, sehingga tidak menjerat kami dalam lingkaran dosa. Amin.”
Ziarah Batin

