Seorang sahabat baru, usia 78 th, komisaris sebuah perusahaan dalam pengadaan konstruksi di PIK 2, menjalani hidup Katolik seorang diri, karena suaminya telah berada di Surga.
Steve, “Kotbah misa hari Minggu…Pastor mengatakan maafkan orang yang bersalah padamu. Saya seperti tersindir… ngomong sih, gampang… belum sempat mikir Pastor mengingatkan lagi, bila kamu ditampar pipi kananmu berikan pula pipi kirimu. Aduh gila banget ajaran-Nya. Kalau kita cinta Yesus, ya, kita harus menurut ajaran-NYA. Ini kan hanya kiasan, ya.”
“Aslinya, apabila kita disakiti perasaannya, kita tidak boleh menjauhi dia, tapi harus tetap menjaga pertemanan dengan baik, tidak boleh memusuhinya. Lama kelamaan orang tersebut akan sadar.”
“Begitu kan Steve?”
Beliau sungguh sangat beriman. Naik ojek, naik kendaraan umum. Di usia yang sudah sesepuh itu tetap bekerja sendiri, tidak ‘ngrusuhi’ anak cucu.
“Bukan kurang duit, tapi saya ingin menjalani hidupku ini untuk Tuhan Yesus. Kalau sudah tidak kuat lagi, hidup ini sudah jadi berkat. Betul kan Steve.”
Trenyuh!
Salam sehat.
…
Jlitheng

