Ramadhanmu dan puasaku hampir berbarengan. Suguhan pengingatnya sangat berat, ‘cintailah musuhmu’, sebagai wujud kesaksian seberapa dalam mutu kemuridan kita.
Takkan pernah ada kasih di dunia seperti kasih-Mu, Tuhan. Telah Kau buktikan cinta-Mu padaku dengan korban-Mu.
Jauh di lubuk hati ini ingin kukatakan, Kau selalu ada dalam hatiku. Menemani hidupku. Memuji-Mu dan menyembah-Mu selamanya, itulah yang kurindu. Tapi Kau tahu, sering aku gagal menjalaninya.
Teman 1: “Bapakku, bantulah aku untuk bisa kembali pada Tuhan. Hari-hari ini hatiku diselimuti rasa benci pada saudariku sendiri. Sudah dibantu malah menyakiti”
Teman 2: “Apa kurang saya, Kangmas. Anak ini (yang aku tolong) sejak bayi sudah aku bantu, segalanya, seperti anak sendiri, karena dia ditinggal Ayah bionya. Tentu atas izin istri dan anak-anakku. (Awalnya berat Mas) Setelah sarjana dan kerja, dia betul-betul melukai hati saya. Melesat ganti habitat, berganti agama demi cowoknya. Segala cara kutempuh, tapi tetep kekeh.
Makin hari kian tidak mudah mengatasi gejolak rasa sakit itu. Tapi kusadari juga, bahwa mencintai bukan investasi, yang bisa dipetik buahnya di kemudian hari. Melainkan sungguh berat, Mas. Terlebih dia bukan anak kandungku.”
Banyak kisah heroik jadi Katolik sejati. Penuh perjuangan untuk mencintai yang tidak ingin dicintai. Sehingga tak heran banyak yang berkata ‘gajah diblangkoni’.
Salam sehat.
…
Jlitheng

