“Orang yang menderita itu adalah mereka yang kehilangan cinta kasih.” -Mas Redjo
Coba bertanya pada diri sendiri dan dijawab dengan jujur, “Apakah Anda bahagia?”
Izinkan hati nurani yang menjawab. Percuma dan sia-sia semata, jika kita menutupinya dengan topeng kamuflase.
Tiba-tiba kesadaran itu muncul dan langsung menohok jiwa ini, ketika pagi itu, homili Romo mengisahkan cita-cita miris seorang anak yang ingin berubah jadi HP!
Alasan anak itu adalah, karena kedua orangtuanya lebih sayang HP dibandingkan dengan dirinya yang anak semata wayang. Nyeri pedih dan menyesakkan jiwa!
Bagaimana tidak. Karena HP, kedua orangtua anak itu, telah memasang jarak, dan memisahkan hubungan antar anggota keluarga!
Orangtuanya lebih akrab dan asyik bercengkerama dengan HP. Perhatian, waktu, dan cinta orangtua itu berpusat pada HP, ketimbang kepada anak.
Anak kecil ditanya cita-citanya, jika besar nanti, umumnya mereka ingin jadi dokter, insinyur, polisi, atau guru itu wajar. Tapi anak ingin jadi HP, supaya dekat orangtuanya?!
Tidak hanya tragis miris, tapi juga nelangsa dan menderita sekali!
Realita itu ada di sekitar atau pada keluarga kita. Disadari dan diakui, atau tidak. Karena kita tidak peduli, abai, dan membutakan mata hati sendiri. Sehingga kita tidak melihat kenyataan yang tragis miris dan nelangsa itu.
Mengapa orangtua tidak peduli dan abai pada anak sendiri?
Apakah dengan memenuhi semua kebutuhan anak, maka jadi beres?
Apakah dengan HP, kita peroleh kebahagiaan sejati?
Alangkah bijak, jika kita membuka hati untuk berefleksi agar kita tidak abai, lupa waktu, hingga melupakan keluarga.
HP itu penting, tapi teramat penting adalah sadar diri dan memperbaiki hubungan keluarga yang renggang dan hambar itu. Caranya, gunakan HP dengan bijak, dan gantikan perhatian khusus dan kasih itu kepada keluarga.
Tidak ada kata terlambat, karena kasih itu lemah lembut, memaafkan, dan murah hati.
Keluarga bahagia itu harta paling berharga untuk hidup damai sejahtera!
Mas Redjo

