Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hai, Sang Arifin, di manakah engkau?”
Kisah sangat menakjubkan dari
kedua pria bersahabat ini, semoga dapat menginspirasi kita.
A sering sakit hati kepada B, sahabatnya, karena ia sering membicarakan kejelekan A.
Suatu saat, A datang kepada B dan memintanya, agar B, langsung dan terbuka menyampaikan kekurangan A saat keduanya berhadapan.
Keduanya pun bersepakat. Sebelum dimulai pertemuan itu, A memohon agar B memimpin doa agar keduanya nanti dapat dengan ikhlas menyampaikan dan mendengarkan.
Setelah berdoa dan berhening, B malah berkata, “Aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi, karena saat berdoa, aku justru tidak menemukan kejelekanmu, eh, malah, yang kutemukan justru kejelekanku sendiri.
Saat itu, A juga terperanjat dan hampir tidak dapat mempercayai ucapan sahabatnya itu.
B bertutur, “Malah yang kutemukan, bahwa selama ini, justru akulah yang selalu bersalah kepadamu.”
Dalam keheningan, kedua sahabat itu akhirnya mulai sadar, akan arti sebuah kebenaran.
Sesungguhnya, hanya kebenaran itu yang dapat memerdekakan hati manusia dari kepalsuan. Fitnah, dengki, iri, dan cemburu itu ternyata telah membunuh kebenaran di dalam sanubari manusia.
Ternyata, hanya kebenaran yang berani berbicara tentang kebenaran.
Kebenaran itu adalah sahabat paling karib dari sebuah ketulusan, kejujuran, dan sikap rendah hati.
Mari kita bersama berhimpun di bawah payung kebenaran!
…
Kediri, 24 Februari 2025

