Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Kejujuran, kerja keras,
jangan ngomong saja, tapi lakukan.
Manajemen harus bersedia
turun ke lapangan.
Karyawan merupakan aset utama. Perhatikan, pedulikan,
dan libatkan karyawan.”
(PK Ojong)
Identifikasi Pemimpin Beracun
Seorang ‘pemimpin beracun’ dapat saja sebagai leader handal yang sangat fokus pada hasil dengan melakukan segala cara demi meraih sebuah tujuan.
Namun sering kali fokus beliau hanyalah bersifat sesaat dan dalam jangka pendek serta tidak memikirkan langgenglitas dari organisasi yang dipimpinnya.
Bahkan sering kali sang leader itu seorang yang berpribadi narsistik yang cinta diri berlebihan dan merasa dirinya sebagai pusat dari seluruh aktivitas. Di sisi lain, dia sering bersikap intoleran dan menganggap remeh prestasi dari para karyawannya.
Tidak jarang pula dia dikelilingi oleh pribadi-pribadi penjilat yang bekerja atas dasar pujian dan berprinsip, “asal bos senang.” Di sisi lain, janganlah sekali-kali Anda mau menantangnya, awas, karena Anda akan segera disingkirkannya.
Dampaknya ternyata tidak sedikit kehancuran organisasi sebagai akibat dari cara serta ulahnya.
(Demikian isi singkat dari gagasan identifikasi pemimpin beracun). Dari harian Kompas, Sabtu, (15/2/2025) kolom Karier. Oleh Eillen Rachman & Emilia Jakob).
Pemimpin Beracun
Mencermati judul tulisan ini, sekilas terkesan akan suatu suasana dan berhadapan dengan sosok pribadi yang menyeramkan serta menaktukan.
Ya, tentu, begitulah. Selanjutnya saya berpendapat, bahwa model kepemimpinan serupa ini lambat laun akan menimbulkan permasalahan juga. Mengapa? Bukankah organisasi yang dipimpinnya itu terdiri dari sekumpulan manusia dengan berbagai latar belakang karakter serta aneka kepribadiannya?
Di saat Anda berada di bawah kepemimpinannya, bukankah Anda akan merasa diri kecil dan tak berdaya? Anda pun akan bersikap serba salah dan tidak bebas untuk berinisiatif.
Perlahan namun pasti, organisasi itu akan menelan pil pahit juga. Karena di dalam tubuh oraganisasi ini tidak ada spirit kebebasan dan inisiatif yang berkembang. Yang ada dan bertumbuh subur itu justru suasana mencekam serta sikap takut berbuat salah.
Dampak yang paling akhir ialah akan tiba saat keruntuhannya.
Bagaimana Eksesnya?
Apa yang akan terjadi di dalam tubuh organisasi ini? Ialah sirnanya sikap kepemimpinan sejati yang bersifat melayani dan yang tidak sekadar mengendalikan.
Eksesnya ialah cepat atau lambat organisasi itu akan tinggal sebuah nama tanpa makna. Karena bukankah kepemimpinan sejati itu justru bertumbuh bagaikan proses terjadinya sebutir mutiara?
Mari kita beramai-ramai bubar alias menggulung selembar tikar.
…
Kediri, 18 Februari 2025

