Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Mengucapkan kata terima kasih adalah obat mujarab penyembuh letih jiwa.”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
Sulitnya Mengucapkan Kata Terima kasih
Sudah menjadi sebuah fakta dan sebagai keluhan umum di dalam wadah hidup bermasyarakat, bahwa ternyata, betapa sulitnya kita untuk mengucapkan kata terima kasih kepada sesama.
Tidak pelak hal itu justru menimbulkan aneka pertanyaan. Mengapa kita sulit untuk mengucapkan kata terima kasih?
Padahal di sisi lain, tradisi etika untuk tahu berterima kasih itu, justru sebagai indikator tingginya derajat pribadi seseorang. Juga sebagai penanda identitas sosok pribadi, sebagai humanis sejati, dan bahkan sebagai obat yang paling mujarab penyembuh letih jiwa manusia.
Sebuah Kata Sederhana
Saat seorang pria tua menaiki sebuah bis, tampak seorang pemuda sudah duduk di kursi paling depan. Tampak pria tua itu sedang mencari tempat paling strategis baginya. Maka, pemuda itu bangun dan memberikan kursinya kepada pria tua itu.
Detelah beberapa saat, pemuda itu bertanya kepada pria tua itu, “Maaf, apa yang baru saja Bapak ucapkan?”
Pria tua yang tampak sudah duduk nyaman itu dengan agak terkejut berkata, “Saya tidak berkata apa-apa.”
Mendengar jawaban dari orangtua itu, maka pemuda itu sambil tersenyum berkata, “Oh, saya pikir tadi saya mendengar Bapak mengucapkan kata terima kasih.”
(Anonim)
Segelas Susu
Sebuah Fakta Miris
Sungguh ironis, karena kelalaian yang menjadi esensi dari tulisan ini, justru dilakukan oleh orangtua yang seharusnya sudah mendarah daging dalam menerapkan praktik beretika di dalam hidup. Namun apa yang terjadi di dalam bis itu, justru si pemudalah yang mampu menerapkan etika hidup secara baik dan benar.
Verba Movent Exempla Trahunt
Bukankah hal ini merupakan sebuah fakta miris? Karena pihak orangtua, yang idealnya memberikan contoh dan suri teladan handal, namun justru melalaikannya. Hal ini mengingatkan kita akan kebenaran yang terdapat di dalam sebuah adagium Latin, “Verba Movent Exempla Trahunt” (Kata-kata mampu menggerakkan, namun suri teladan lebih memikat).
Apa yang Perlu Kita Lakukan?
Bertolak dari sebuah fakta miris dari kisah ini, hendaklah kita kembali ke dalam hati, ke dalam dapur keluarga, ke dalam lingkungan pendidikan, dan juga ke dalam masyarakat kita.
Bertolak dari prinsip hidup, bahwa suri teladan itu justru jauh lebih memikat hati manusia daripada sekadar kata-kata, maka hendaknya kita mampu dan tidak bosan-bosannya untuk memberikan teladan baik di dalam arena kehidupan ini.
Sekali lagi, bahwa suri teladan itu sebagai obat paling mujarab!
…
Kediri, 16 Februari 2O25

