“Tidak selamanya kita bekerja pada orang lain. Kita harus jadi Bos untuk diri sendiri.” -Mas Redjo
Berorientasi jauh ke depan itu yang menuntut dan menantang saya untuk bekerja keras, mandiri, dan sukses.
Ketika jadi tenaga pemasaran, saya selalu meningkatkan target bulanan agar penjualan barang saya terus meningkat. Bonus dari perusahaan itu tidak saya serahkan ke istri, tapi ditabung, kelak untuk modal usaha sendiri.
Bonus 3 tahun bekerja sebagai tenaga pemasaran itu akhirnya saya gunakan untuk modal usaha. Saya minta izin dan pamit pada Bos, karena ingin mandiri.
Bos kaget, bahkan mencoba untuk menahan dan menawariku naik jabatan. Tapi dengan berat hati saya mohon maaf dan izin pamit undur diri, meski berat hati. Karena suasana kerja yang nyaman dan akrab satu dengan yang lain.
Target demi target itu yang harus saya wujudkan, karena saya tulang punggung keluarga dan anak-anak membutuhkan biaya sekolah yang besar.
Jika saya memilih produk makanan ringan, karena banyak relasi saya yang bergerak di bidang itu. Hal itu memudahkan saya membangun relasi dan pengembangan usaha.
Sistem ‘pendem’ (simpan) uang dan hidup prihatin adalah jurus andalan saya untuk menguati fondasi modal usaha. Prioritas utama saya adalah membeli barang untuk keluarga itu sesuai kebutuhan. Misal, ketimbang membeli mobil keluarga, saya lebih mendulukan mobil operasional, dan sebagainya.
Jika awalnya saya membeli barang dengan tukar bon, kini membayar tunai. Alasan saya adalah, selain memperoleh diskon, saya mengejar target bonus pembelian yang ‘wow’. Apalagi menjelang Lebaran kali ini.
Prinsip bisnis saya dalam menyikapi krisis pembeli dan menyambut Lebaran kali ini adalah, “meski untung kecil, tapi saya harus sukses melipatgandakan target penjualan demi bonus dari produsen.”
Semangat dan berkah Lebaran
Niat ingsun!
Mas Redjo

