Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Refleksi ini Mohon Kerendahan Hati Sejati”
Sesungguhnya, manusia itu hanyalah sekerat daging di atas sebuah piring.
Dia, tak kurang dan tak lebih dari hanya sekadar laksana sekerat daging, yang terombang-ambing, dan bisa akan segera membusuk, berbau tak sedap, dan bahkan berulat.
Di atas seceper piring dia sungguh tak berdaya, hanya bergerak ke kiri atau ke kanan, karena toh memang tak berdaya.
Dia mudah terombang-ambing kala piring itu dimiringkan ke kiri atau ke kanan.
Sesungguhnya, manusia itu serba rapuh dan tak berdaya.
Kondisi tak berdaya ini disimbolkan, bahwa manusia itu memang sangat rapuh dan mudah terpental secara mental spiritual. Dia, benar-benar bagai sekerat daging. Dia juga ternyata sangat mudah tergoda dan dibujuk dirayu dalam kesehariannya.
Refleksi ini, mengajak manusia untuk sudi mengaca diri pada sebening cermin kehidupan.
Mengaca pada cermin kearifan, kejujuran, ketulusan, juga pada cermin kerendahan hati.
Relasi intens dan tulus dengan Sang Pencipta adalah sebuah kekuatan terdasyat bagi manusia.
Sekerat daging, sungguh tidak bermakna apa-apa lagi, apakah dia disantap oleh Raja dan Ratu, atau oleh pengemis yang kumal terlunta.
Maka, sesungguhnya, celakalah, jika manusia dalam hidupnya itu selalu bersikap angkuh dan rakus. Dia, hanyalah sekerat daging yang akan segera membangkai busuk.
Mari kita senantiasa hidup di dalam kesadaran, bahwa kita ini sangat rapuh, lemah tidak berdaya, laksana sekerat daging di atas piring durhaka.
“Manusia haruslah rendah hati, karena dia berasal dari debu tanah.”
(pepatah Swedia).
…
Kediri, 13 Februari 2025

