Simply da Flores
…
Di muara ini bersemi pelangi kisah
tentang tebaran aneka sampah zaman
tentang perjumpaan air tawar dan asin
tentang rindu puncak gunung dan damba dasar samudra
tentang pasang naik dan surut nasib kehidupan
tentang canda ria lumpur dan butiran pasir
tentang pelukan suka duka nasib
tentang cerita persahabatan dan peperangan kepentingan
Tentang peradaban lintas generasi insani
Tentang kemarin, hari ini, dan esok
Perjumpaan abadi lestari alam dan manusia
Setia ditulis di halaman angkasa
oleh tangan mentari dan jemari angin
Ketika pagi merekah
mentari melahirkan putra-putri generasi
lepaskan mereka di muara zaman
antara sungai harapan dan samudra misteri
Para putri cahaya membawa seribu kemungkinan
entah melangkah ke samudra atau menyusuri sungai
Para putra fajar menggenggam sejuta mimpi
entah mengembara abadi bersama angin
atau menapaki tangga langit untuk membangun rumah di awan
Putra fajar dan putri cahaya
melihat dan menelisik hari ini
agar bisa menenun lembaran esok
“Bisakah kami membuat gelombang revolusi”
Para tetua dan sepuh diam membisu mereka mewariskan tradisi sejuta nostalgia
berkisah cerita tentang kemarin dan tempo doeloe
“Mengapa anak generasi kita
sering mengabaikan orangtua
semakin melupakan kearifan leluhur”
Sedangkan
Sang waktu menarik generasi muda berlari
terus membuat kreasi dan inovasi
agar jadi pahlawan untuk zamannya
karena sudah menginjak debu tanah
dan berani memadamkan api mentari
untuk menyibak misteri nafasnya
Alam semesta pun mempunyai hukum dan agenda misteri
Ketika senja bersemi
para putri cahaya datangi muara
hendak menyaksikan pertemuan sungai dan samudra
Lalu ada pertanyaan yang dihambur
“mengapa air sungai diasinkan samudra”
Sedangkan
para putra fajar berbaris di pasir pantai
ingin saksikan senja ditelan dahaga asmara lautan
dan dibawa ke istana cinta di dasar samudra
Mereka menebar jala dan pancing
dambakan kegelisahan hiu dan ikan paus
pada predator dan banjir sampah polusi
“Mengapa samudra jarang datangkan tsunami
dan tegakkan hukum alam atas kerakusan manusia”
Ketika gulita malam datang
Para putra fajar dan putri cahaya
datang berkeliling memeluk muara
Gemerlap sinar bintang dan pesona purnama
tak mampu enyahkan sejuta tanya
tak bisa menjawab galau kecemasan
Akan hadirnya fakta atas mimpi-mimpi
Akan datangnya kejujuran bagi harapan nurani
Akan lahirnya sang ratu dan raja adil
sebagai jawaban bagi sejuta problema
Yang diwariskan para tetua pendahulu
Yang dipatrikan keputusan para orangtua
“Kami ingin istirahatkan jiwa raga
Tetapi pikiran dan mata kami tak dapat terpejam dan damai
Mengapa kami terlahir di zaman ini”
Ketika subuh membuka mata
ternyata mentari masih datang kembali
dengan sinar cahaya seperti kemarin
Ternyata waktu masih berlari abadi
mengubah jiwa raga tanpa kompromi
meskipun musim silih berganti
biarpun laut pasang dan surut
dan sungai pun terus mengalir
Hari baru segera tiba
setelah gulita malam perlahan pergi
Di muara ini terus terjadi perjumpan antara sungai dan samudra
antara air asin dan air tawar
antara butiran pasir dan lumpur
Dan
kehidupan pun silih berganti bersemi
Suka duka adi lagu abadi manusia
di bawah kolong langit dan gendongan bumi
Generasi pun pergi datang berinkarnasi
hanya perubahan yang paling pasti
selama menanti kejujuran dan harapkan kepastian
Pengalaman indah penuh misteri
memeluk fakta dan harapan
dalam keterbatasan bahasa menyibak realitas
Mungkin mesti kembali ke hakikat pribadi
pulang ke dalam diri sejati
Darimana dan kemanakah saya
Mengapa terlahir di bumi ini?

