“Didiamkan atau dicabut, duri dalam daging itu menimbulkan rasa sakit.” -Mas Redjo
…
Bagi saya pribadi, didiamkan atau dicabut duri itu ibarat makan buah simalakama. Saya memutuskan untuk mencabutnya agar luka sakit itu segera diobati dan sembuh.
Duri dalam daging itu adalah suatu hal yang tidak menyenangkan hati, menyakitkan hati, atau mengusik pikiran ini. Sehingga harus segera disikapi dengan bijak agar tidak mengganggu kinerja saya.
Cara berpikir saya juga sederhana, yaitu dengan melepaskan belenggu pikiran buruk itu. Awalnya adalah dari tiada, lalu jadi ada, dan kembali ke tiada.
Begitu pula, ketika tidak dipercaya oleh pabrik yang memasok barang ke toko saya yang adalah distributor. Kendatipun hubungan dengan pabrik itu hampir 15 tahun!
Saya menyesal dan kecewa? Tidak! Karena saya belajar mengambil hikmat di balik peristiwa konyol itu.
Konyol, karena saya tidak dipercaya oleh anak ingusan kemarin sore itu. Padahal tempat usaha saya jelas dan milik sendiri. Saya juga sudah menekuni bidang itu hampir 3 dasa warsa!
Anehnya lagi, atasan sales itu tidak ada niat untuk datang ke toko saya guna mencari kejelasan ikhwal bubarnya hubungan itu.
Ternyata dari beberapa pelanggan saya yang datang ke toko, mereka bercerita tentang kelakuan sales konyol itu, yang minta uang di depan untuk setiap kali pemesanan barang dengan menunjukkan percakapan lewat WA.
Mereka marah, mundur, dan tidak berlangganan lagi, karena merasa dilecehkan dan tidak dipercaya.
Selain itu, jika pesanan kiriman barang itu jelek, sulit dikembalikan, mengurus sisa kelebihan uang yang berbelit, dan banyak komplainan lain lagi.
Saya diam tidak menanggapi itu bukan karena merasa senasib. Melainkan saya makin mahfum dengan tumpang tindih dan aturan yang carut marut di perusahaan itu.
Tiba-tiba ingatan saya melayang pada seorang sahabat yang dikirimi surat piutang dari perusahaan itu tanpa perincian dan bukti. Sehingga hendak dikasuskan, karena dianggap perbuatan yang tidak menyenangkan.
Saya juga ingat pada mantan Bos sales itu. Bos itu ke luar dari perusahaan, lalu membuka usaha yang sama. Bahkan lebih konyol lagi adalah anak buah mantan Bos itu mendatangi dan menyerobot pelanggan saya. Bosnya mengaku tidak tahu, padahal saya mencetak dan mengambil barang dari perusahaan itu!
Saya menarik nafas lega. Dengan memutuskan hubungan dengan perusahaan itu berarti saya ke luar dari lorong gelap untuk menuju jalan terang.
“Akar segala kejahatan adalah cinta uang” (1 Timotius 6: 10).
“… Maka aku diberi suatu duri dalam dagingku, yaitu utusan Iblis untuk mengocoh aku agar tidak meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur daripadaku. Jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku jadi sempurna” (2 Korintus 12: 7-9).
…
Mas Redjo

