Diri kita jangan menjadi penghalang saat melakukan tiga hal ini: “Bersedekah, Berdoa dan Berpuasa.” Tidak usah pakai panggung. Ini adalah olah rohani, olah spiritual kita, dan bukan sebuah pertunjukkan.
“Dan Bapamu yang melihat secara sembunyi-sembunyi itu akan membalasmu” (Matius 6: 6). Tidak usah khawatir. Semuanya itu dilihat dan dicatat dengan baik oleh Bapa di Surga. Semuanya diperhitungkan oleh Tuhan. Sebab, dengan ketiga tindakan rohani itu, kita telah menyenangkan hati-Nya.
Khotbah-khotbah Yesus di atas bukit selama ini sungguh menyentuh hati kita. Ibaratnya, kita langsung dibawa kepada semangat inti. Sebab ini menyangkut praktek kehidupan kita sehari-hari.
Yesus menegaskan tentang pentingnya sikap keagamaan yang mesti dijalankan sebagai tindakan ibadah sejati. Jangan sampai diri ini menjadi penghalang bagi ketiganya, yaitu di saat kita bersedekah, berdoa dan berpuasa.
Bersedekah, berdoa, dan berpuasa itu harus dilakukan bukan dengan maksud bersandiwara = seperti sebuah pertunjukan, apalagi saling berkompetisi, lalu menantikan sorak-sorai. Bukan! Melainkan ketiganya itu harus dilakukan dengan motivasi murni, yaitu makin bisa memuliakan Allah dalam Roh dan Kebenaran. Jika melakukan ketiga hal itu tidak dengan motivasi murni, kita tidak mememperoleh apa pun. Hidup rohani kita justru terhambat pertumbuhannya. Tidak mendatangkan berkat, begitu sederhananya.
Karena itu sebagai anak-anak Tuhan, kita jangan suka pamer.
Ketiga pilar rohani ini bisa jadi penghubung bagi kita dengan Allah. Jangan terhalangi oleh diri kita sendiri dan orang lain. Sebaliknya, ketiga pilar rohani ini, selain memantabkan kedekatan relasi dengan Tuhan, juga menjadikan kita sebagai penyalur berkat bagi sesama.
Banyak dari sesama kita yang membutuhkan doa-doa, uluran kasih, dan ingin dipulihkan dengan mati raga kita.
Mari, nafasi hidup kita dengan semangat doa: “Ya, Yesus, jadikan kami pembawa berkat, kasih-karunia, dan damai sejahtera dari-Mu kepada para sahabat dan saudara-saudari kami. Amin.”
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

