“Orang jahat itu tidak harus dibenci, tapi dikasihi. Yang wajib dibenci itu adalah perbuatannya.” -Mas Redjo
…
Karena itu, jika ada salah, tolong diingatkan atau ditegur agar saya tidak kebablasan dan salah arah.
Berani berbuat itu harus berani bertanggung jawab. Berani untuk meminta maaf dan memperbaiki pula, karena itu sikap ksatria.
Jika orang yang berbuat salah itu tidak mau diingatkan atau ditegur, ya, itu urusan yang bersangkutan. Kita tidak harus sewot. Apalagi menghakiminya.
Jika kita membenci dan dendam padanya, itu berarti salah alamat, datangnya dari si jahat, dan kita juga menyakiti diri sendiri.
Padahal yang mempunyai domain untuk menghakimi dan mengadili orang itu adalah Tuhan. Dia tidak membenci ciptaan-Nya, tapi perbuatan orang itu.
Begitu pula seharusnya dengan kita yang adalah ciptaan-Nya. Untuk tidak menghakimi, membenci, dan mendendam. Tapi mengasihi orang yang bersalah itu, sebagaimana Tuhan adalah kasih.
Sekali lagi, jika ada kata, sikap, dan perilaku saya yang tidak berkenan di hati, silakan diingatkan langsung. Tidak harus menyindir, nyinyir, atau berkoar-koar di medsos. Itu sifat kekanak-kanakkan dan permalukan diri sendiri.
Alangkah bijak, jika kritik, saran, dan teguran itu disampaikan dengan hati. Karena hal itu lebih elegan dan menunjukkan pribadi yang makin dewasa.
Jujur, saya senang menerima saran, kritik, dan diingatkan orang lain. Karena sadar, bahwa saya banyak kekurangan dan kelemahan yang harus dibenahi dan diperbaiki.
Tapi sebelum diingatkan orang lain, saya berusaha untuk meningkatkan kontrol diri. Untuk berpikir dulu sebelum berbicara dan bertindak agar tidak permalukan diri dan menyesal di belakang hari.
Berusaha mengingatkan diri sendiri itu adalah jalan kebijaksanaan agar saya jadi pribadi yang rendah hati.
…
Mas Redjo

