Sering terucap, kalau ingin masuk Surga mulailah dari rumah. Kalau kita dianugerahi perkawinan bahagia, keluarga harmonis, sebenarnya kita sudah ‘masuk Surga’. Kalau dalam keluarga kita, yang terjadi adalah sebaliknya, kita sudah ‘masuk Neraka’.
Pada bulan Februari yang di seantero dunia dirayakan sebagai bulan cinta ini, kita mau bersyukur bersama teman yang sukses menjalani janji setia mereka di depan altar, mau terima kasih kepada para pasutri yang dengan tekun dan setia telah menghidupi janji suci mereka: “Tetap setia dalam untung dan malang.”
Pasangan yang berhasil menjalani perkawinan selama 25, 40, 50, 60 atau bahkan 70 tahun sungguh pasangan yang sangat diberkati.
Namun, kita juga tahu dan merasa, bahwa hidup tidak seindah mimpi. Banyak sekali masalah terbentang di depan kita. Rasanya, masalah hidup di zaman ini makin ruwet dan komplek saja.
Akibatnya, untuk banyak saudara kita sekarang ini, miliki perkawinan yang utuh adalah sebuah kemewahan. Setia dan kesetiaan tinggal kata manis yang hambar. Oleh beratnya beban yang nyaris tidak tertahan, perceraian jadi pilihan yang dinilai paling realistis dan melegakan.
Sebagai sesama orang rapuh, kita tidak dalam kapasitas menilai, apalagi mengadili.
Kita bawa mereka dalam doa agar setidaknya masih merasa, bahwa Tuhan ada untuk mereka juga.
“Datanglah kepada-Ku kalian yang letih lesu berbeban berat, Aku akan melegakanmu.”
Salam sehat.
…
Jlitheng

