“Tidak asal melarang. Lebih bijak dipahami maksud dan tujuannya agar semangat muda itu tidak patah.” -Mas Redjo
Selama maksud dan tujuannya itu baik serta tidak merugikan orang lain atau membahayakan diri sendiri, saya tidak asal melarang terhadap aktivitas dan kegiatan anak. Jika ragu, lebih bijak hal itu dirembug bersama agar komunikasi dalam keluarga itu makin baik dan lancar.
Seperti halnya, ketika saya aktif dalam kegiatan sosial Gereja. Ada anak yang ingin melayani Tuhan, tapi ditolak koordinatornya dengan alasan, anak-anak itu terlambat mendaftar dari waktu yang telah ditetapkan.
Sebagai orangtua, saya sekadar memberi masukan, usulan, dan mengingatkan mereka agar tidak mematahkan semangat pelayanan anak, sehingga mereka jadi mutung dan patah semangat. Tuhan tidak menolak pelayanan dari umat-Nya. Karena sejatinya kita adalah alat-Nya.
Begitu pula, ketika diadakan lomba vocal grup. Peraturan yang dibuat panitia itu tumpang tindih antara yang disampaikan di pertemuan dengan di flyer yang disebarkan. Akibatnya ada peserta lomba batal mengikuti, karena didiskualifikasi.
Tanpa mencari yang salah atau benar, lebih bijak, jika kita duduk bersama untuk bicara dari hati ke hati dan mencari titik temu untuk diperbaiki demi kebaikan masa depan bersama dan Gereja.
Kita tidak harus mengedepankan emosi dan ego, sehingga perkeruh situasi. Hubungan jadi memanas, buruk, dan merenggang jauh.
Kita tidak harus mengedepankan malu dan gengsi, tapi kerendahan hati. Karena melayani Tuhan tanpa rendah hati itu kehilangan arti dan tiada guna.
Ketika salah langkah atau keliru dalam mengambil keputusan, kita juga tidak harus berkecil hati dan minder. Tapi yang utama dan pertama adalah kita harus berjiwa besar dan sportif untuk berani meminta maaf dan memperbaiki diri.
Saling menghargai, menghormati, dan mengedepankan kerendahan hati adalah semangat pelayanan yang diwariskan Tuhan Yesus untuk diteladani agar kita melayani sesama dengan ikhlas hati.
Mas Redjo

