Sabda Tuhan: “Jika seseorang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu” yang kudengar dulu, saat aku kecil, melekat sangat dalam dan sering hadir sepanjang hidupku. Ibarat kompas dan pelita setiap kali ada perilaku orang lain yang merendahkan atau mengeksploitasi kuasanya, berlaku tidak adil lewat orang lain.
Saya bersaksi, bahwa: “Berulang kali Tuhan hadir menyelamatkan hidupku lewat Sabda-Nya itu.
Dari beberapa hal unik yang pernah saya alami, ada satu pengalaman yang sangat aneh, tak masuk akal dan amat ‘njelèhi’. Ketika mantan bosku sekaligus sahabatku pamitan, karena dipensiun dini, lirih dan dengan nada menyesal berkata: “Maafkan aku, Mas, dulu saya menggaji sampean ‘underpaid’, karena ada pesanan dari atas demikian.”
Jawab saya: “Memang anèh apa pun pesan itu, tapi tak akan merubah pertemanan kita, to. ‘Sing wis yo uwis’. Lagi pula peristiwanya sudah terjadi 10 tahun yang lalu (saat itu). Kita lanjutkan saja hidup ini dengan cara baru” (kuberikan pipi kiriku untuk ditampar).
Memang harusnya, ya, tidak begitu. Alih-alih menolong teman, ketika sedang berjuang menata hidupnya, ada saja yang tega memakai pengaruhnya untuk mempersulit orang lain. ‘Mbuhlah!’
Sampai sekarang tetap saja masih tidak mudah memahami Sabda ini: “Berikan pipi kiri-mu untuk ditampar.”
Tapi, lewat hal-hal yang sederhana (walau aneh) seperti itu, saya memaknai Sabda-Nya, dengan cara belajar menerima hal-hal yang tak saya harap dan pahami. Ada berkah lain dari Tuhan.
Salam sehat.
Jlitheng

