Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bangsa yang tidak tahu
lagi apa itu jujur, tidak
bisa maju, bahkan akan
kandas.”
(Frans Magnis Suseno)
Kesaksian Tertulis
Eduard Lukman, (Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan) dalam Opininya lewat surat kepada Redaksi yang berjudul “Patriot Merawat Harapan” Kompas, Rabu, (5/2/2025) menulis, “Korupsi membuat kita dari atas sampai ke bawah jadi orang yang tidak jujur. Orang yang tidak jujur tidak lagi tahu apa itu keadilan dan tanggung jawab.”
(Beliau mengutip pandangan dari Prof. Dr. Frans Magnis Suseno).
Tajuk Rencana
“Korup Sejak di Pintu Masuk,” demikian judul Tajuk Rencana, dalam Opini Kompas, Rabu, (4/2 2025).
Lewat Tajuk Rencana ini, Editor yang mewakili suara media Kompas mengupas hal “dugaan praktik pemerasan oleh petugas imigrasi Bandara Soekarno – Hatta.”
Kita perlu berterima kasih kepada Kedutaan Besar RRC atas surat yang mengungkap dugaan praktik pemerasan oleh petugas imigrasi Bandara, Soekarno-Hatta. Demikian sub judul Tajuk Rencana.
Yang Busuk akan Berbau
“Semua yang busuk pun akan berbau menyengat,” demikian peribahasa bangsa kita. Peribahasa ini mau mengungkapkan, bahwa semua tindakan atau perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran, cepat atau lambat itu akan tercium alias terungkap juga ke arena publik.
“Pahitnya Ketidakjujuran” adalah ekspresi bebas dari saya sebagai seorang anak bangsa yang merasa terpanggil untuk menyuarakan atas realitas praktik ketidakjujuran di dalam tubuh bangsa ini.
Fakta-fakta yang Memahitkan Hati
- “Di manakah foto Soekarno?” Inilah pertanyaan dari Nelson Mandela di saat bertandang ke gedung KAA (Konferensi Asia, Afrika) pada 21 Oktober 1990. Beliau berpendapat, bahwa Soekarno adalah tokoh utama sebagai penggagas konferensi itu.
Ternyata semua foto Soekarno telah diturunkan lewat proyek tipuan de-Soekarnoisasi yang menggelapkan perjuangan luhur Soekarno dalam mencapai Indonesia Raya. Ini pun sebentuk tindakan ketidakjujuran terhadap sejarah bangsa ini.
- Kedubes China juga mengungkapkan, bahwa kasus ini merupakan puncak gunung es, karena banyak warga negaranya yang diperas dan tidak melaporkan kasusnya, karena kesibukan aktivitas atau takut adanya pembalasan di kemudian hari. Sangat bisa jadi, warga China yang mengunggah video permintaan maaf, setelah konten menyelipkan uang Rp 500.000 viral di media sosial, termasuk mereka yang takut adanya pembalasan ini, demikian isi salah sebuah paragraf dalam Tajuk Rencana.
Dari Mana Datangnya Monster Ketidakjujuran?
Inilah sebuah pertanyaan cerdas yang sungguh menantang kita sebagai sesama anak bangsa. Hal ini pula sebagai sebuah pertanyaan yang menyangkut karakter dan moralitas kita sebagai anak bangsa beragama ini.
Di dan dari balik spirit isi serta makna pertanyaan yang sungguh menantang ini, hendaknya kita patut merefleksikan diri. Mulai dari Presiden hingga ke rakyat jelata. Juga dari institusi keagamaan hingga ke segenap lapisan masyarakat.
Di mana dan dari manakah radiksnya? Bukankah hati adalah pusat kesadaran sejati manusia? Mari, masukilah ke kedalaman hati nurani kita. Datangi sumur sumber jiwa suci kita dan bertanyalah!
Ini adalah kesalahan dan dosa siapa? Hendaklah tidak seorang pun yang akan mencuci tangan!
Kita sungguh sangat membutuhkan pertobatan mendalam dan total!
…
Kediri, 6 Februari 2025

