“Lepas kelekatan pikiran kita dari prasangka, karena hanya melukai diri sendiri. Bahagia itu tanpa prasangka.“ -Mas Redjo
Ketika satu persatu pelanggan itu diambili sales pabrik, saya tidak reaktif dan langsung menyalahkan. Saya tidak berprasangka buruk, bahwa sales itu tidak mempunyai etika bisnis. Atau juga menyalahkan para pelanggan itu.
Sebaliknya saya berefleksi diri. Mereka pindah, karena pelayanan saya yang kurang baik. Mereka bebas memilih pemasok, karena mempunyai uang, termasuk mencari harga yang termurah.
Situasi ekonomi yang makin sulit dan krisis pembeli itu bisa membuat orang jadi khilaf, bahkan melupakan jalinan hubungan baik. Karena yang dipikirkan adalah keuntungan dan uang semata.
Meski anak berprasangka buruk mencurigai ulah pabrik yang minta pembayaran dipercepat itu seperti tidak percaya. Padahal hubungan dengan pabrik itu sudah puluhan tahun. Pabrik mencari alasan demi mengejar omzet?
“Jangan berprasangka buruk dan menyalahkan pihak lain. Kita ikuti aturan pabrik. Karena kita sudah tidak dipercaya lagi, berarti kita disuruh mencari jalan ke luarnya. Lebih baik kita ambil hikmatnya.”
Saya membesarkan hati anak untuk berpikir positif agar tidak melukai diri sendiri. Jika pabrik sudah hilang kepercayaan, hubungan itu tidak layak dipertahankan lagi!
Dengan berpikir positif, kita dituntut mencari jalan untuk menyelesaikan persoalan itu secara bijak. Tidak harus emosi, benci, mendendam, dan jadi mandeg. Sehingga rugi sendiri. Tapi tantangan itu memacu kita untuk gigih berjuang, kreatif, dan produktif.
Saya lalu menghitung ulang belanja bulanan dari pabrik guna memenuhi kebutuhan pelanggan. Juga plus minusnya mempunyai pabrik sendiri.
Saya menantang kesanggupan, keseriusan, dan komitmen anak, jika mengurus dan mengoperasionalkan pabrik yang nantinya jadi tanggung jawabnya itu.
“Jika semua ini adalah rancangan-Mu, Tuhan, saya mohon terang Roh Kudus-Mu,” bisik saya lirih, dan mantap hati.
Saya percaya diri dan optimistis dalam penyertaan Tuhan!
Mas Redjo

