Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kata-kata lebih tajam
daripada pedang
bermata dua.”
(Peribahasa)
Dari Kata ke Tindakan
Sang arifin berpendapat, bahwa pada mulanya adalah kata-kata atau bahasa. Segala sesuatu itu justru bermula dari kata-kata yang kelak dapat melahirkan pengertian dan yang akhirnya terekspresi lewat sebuah tindakan nyata.
Bukankah kata-kata alias bahasa itu adalah ekspresi dari dan berupa ucapan serta pikiran manusia yang mengandung suatu pengertian?
Bahasa itu Unik dan Bermakna
Setiap bangsa atau negara memiliki sebuah bahasa sebagai sebuah identitas bangsanya. Sehingga ada pepatah yang mengatakan, bahwa “Bahasa menunjukkan bangsa.” Atau juga ‘dari bahasa, kita dapat mengetahui siapakah orangnya.’ Maka, bahasa itu bersifat sangat unik dan personal.
Selain bersifat unik, sebuah bahasa memiliki makna atau arti yang menunjuk pada pengertian.
Kekuatan Kata-kata
Ketahuilah, bahwa kata-kata yang diucapkan itu ternyata memiliki kekuatan, bahkan bagai senjata nan dasyat yang dapat berimplikasi pada suatu tindakan. Jadi, dalam konteks ini, sungguh betapa kuatnya efek dari kata-kata itu.
Ingatkah Anda tentang kuat dan bermaknanya kata-kata seperti yang terungkap lewat bahasa hukum, bahasa undang-undang negara, bahasa keagamaan, bahasa sosial budaya, bahasa pasar, bahasa raja-raja dan istana, bahasa prokem remaja, dan bahasa rakyat jelata? Semuanya itu sangat unik dan spesial yang menunjuk pada jati diri sebuah kelompok manusia dalam lingkup masyarakat.
Dasyatnya Kata-kata
Ternyata kata-kata atau bahasa itu memang berdampak sangat dasyat. Bukankah lewat kata-kata Anda dapat merasa disanjung atau disakiti? Dimuliakan atau disampahkan? Dijatuhkan atau diangkat dan diluluskan atau diloloskan?
Ternyata tidak sedikit pula orang yang terluka sangat dalam, tatkala ia menerima ucapan kasar dari seseorang? Ucapan dari seorang pemimpin bangsa, seorang guru dan dosen, juga apalagi ucapan dari seorang hakim di ruang pengadilan?
Rawatilah Mulutmu lewat Bahasamu
“Mulutmu adalah harimaumu” demikian sebuah ungkapan. Artinya, jika Anda dan saya berbahasa secara kasar liar dan nanar, maka implikasinya, bahwa sang penerima atau pendengar itu akan memandang Anda laksana seekor harimau.
Mari kita berbahasa secara santun dan beradab di mana pun kita berada. Diharapkan agar kata-kata itu tidak melukai hati, atau bahkan justru dapat membunuh sesamamu.
Ekses dari Kata-kata
- Kata-kata yang indah dan memikat, dapat menumbuhkan apresiasi di dada.
- Kata-kata yang pedas dan menyengat, dapat memerahkan kuping serta wajah.
- Kata-kata pujian dan sanjungan, dapat membanggakan serta menaikkan derajat kemanusiaan.
- Kata-kata kutukan dan hinaan, dapat membunuh inisiatif serta harapan seseorang.
Mari kita makin bijaksana sebagai manusia sejati justru lewat kearifan dalam berkata-kata!
…
Kediri, 5 Februari 2025

