“Bernyanyilah, hai, jiwa. Pujian dan kemuliaan kepada Tuhan untuk selama-lamanya.” -Mas Redjo
Hidup ini untuk bernyanyi, memuji, dan memuliakan Tuhan adalah kredo yang dipercaya dan diimani, ketika kita dibaptis.
Kita harus meninggalkan manusia lama itu untuk jadi manusia baru. Hidup baru yang berlimpah suka cita. Untuk bernyanyi, memuji, dan memuliakan Tuhan.
“Karena hidup ini adalah nyanyian jiwa untuk bersuka cita.”
Saya terinspirasi dan termotivasi untuk meneladani orang benar dan saleh di Yerusalem: Simeon yang bertemu dengan Yusuf, Maria, dan bayi Yesus di Bait Suci (Luk 2: 27).
Ungkapan syukur Simeon itu amat luar biasa dan menggugah jiwa sadar saya. Suka cita dengan sikap pasrahnya itu, bahkan sekalipun ia harus berpulang kepada Tuhan dengan jiwa nan damai.
Kidung Simeon
Sekarang, Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang
dalam damai sejahtera menurut sabda-Mu.
Sebab aku telah melihat keselamatan-Mu
yang Kau sediakan di hadapan segala bangsa:
Cahaya untuk menerangi para bangsa,
dan kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.
Bagi saya pribadi, Kidung Simeon (Luk 2: 29–32) itu makin meneguhkan semangat hidup saya.
Ketika dibaptis, kita dituntut untuk komitmen, konsekuen, dan konsisten untuk hidup baru. Kita menghidupi jiwa ini dengan berbagi, beramal kasih, dan berdoa. Karena hal itu yang mampu menyenangkan hati Tuhan.
Hidup ini yang harus direfleksikan dengan tindakan nyata sebagai ungkapan pujian dan syukur bagi kemuliaan Tuhan. Sekaligus kesiap-sediaan hati, jika saatnya tiba kita berpulang kepada-Nya. Karena Tuhan Yesus adalah Penyelamat kita.
Alleluya!
Mas Redjo

