“Perencanaan yang matang itu harus ditindaklanjuti. Berinvestasi itu untuk mewujudkan masa depan yang cerah dan pasti.” -Mas Redjo
…
Orientasi hidup saya adalah, “Pola pikir itu harus selalu diperbarui untuk tidak pelit dan menyulitkan diri sendiri.”
Pengalaman itu yang saya bagikan pada teman yang aktivis di UMKM, sebelum gas tabung melon itu jadi barang langka di pasaran.
Karena sejak jauh hari, dan telah berkali-kali saya mengingatkan mereka untuk berwawasan ke depan agar tidak merugikan dan menyulitkan diri sendiri. Cepat atau lambat, gas melon bersubsidi itu bakal sulit di pasaran dan harganya melonjak.
Alasan saya sederhana. Awalnya, untuk memasak, kita menggunakan kayu bakar atau arang, lalu beralih ke minyak tanah atau batu bara, hingga ke gas. Mau tidak mau, kita dituntut untuk mencari bahan bakar alternatif, karena bahan bakar gas yang impor itu juga bakal menipis, dan habis.
Alasan mereka enggan dan malas untuk pindah ke gas non subsidi, karena tidak mempunyai tabung besar (12 kg); harga tabung dan gasnya mahal.


Padahal, banyak UMKM itu yang sehari menggunakan gas minimal 4 tabung melon. Tapi enggan dan malas untuk pindah ke tabung gas yang 12 kg. Bisa juga mereka malas menghitung biaya produksinya.
Seharusnya, kita instrospeksi untuk bertanya pada diri sendiri. Apakah kita (masih) layak disubsidi? Hal ini dimaksudkan agar kita sadar dari kenyamanan itu untuk berani berdiri di atas kaki sendiri dan mandiri.
Kita harus bersikap jujur pada diri sendiri, bahwa subsidi itu diberikan agar tepat sasaran kepada mereka yang layak dibantu. Aturan dibuat jelas dan tegas. Regulasinya juga transparan dan tepat sasaran untuk mereka yang diberdayakan.
Sehingga di saat gas tabung melon itu sulit dicari dan langka, kita tidak kelabakan. Kita tidak harus mencari ke banyak tempat dan dibatasi pembeliannya. Kita repot dan rugi sendiri, baik segi waktu, tenaga, dan biaya transportasi. Bahkan jauh lebih menyedihkan, jika kita tidak memperoleh gas yang dibutuhkan untuk berproduksi. Akibatnya, karyawan pun menganggur dan kita rugi.
Saatnya kita berani berubah untuk perbaiki cara berpikir kita untuk tidak saling menyalahkan atau mencari kesalahan pihak lain.
Mari berinvestasi dengan cerdas untuk menjawab tantangan dunia usaha dengan tuntas.
…
Mas Redjo


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.