“Orang yang arogan itu wajib dikasihi agar tidak melukai diri sendiri.” -Mas Redjo
…
Saya tersenyum. Dengan penuh hormat, saya meminta maaf dan minta pengertian laki-laki itu.
“Maaf, saya mohon Bapak berkenan, mobilnya sedikit dipinggirkan. Karena menghalangi jalan kendaraan lain,” kata saya takzim. Tidak mau berdebat. Kita harus sadar dan maklum, karena jalanan ke parkiran itu menyempit.
“Bapak ini siapa? Biar pengurus parkir yang komplain ke saya!” kata lelaki itu ketus sambil melotot, lalu pergi.
Saya terperangah, kaget, dan tidak menyangka bakal diketusi seperti itu. Saya menarik nafas untuk menenangkan diri, mengalah, dan menuju rumah ibadah.
Miris, sekaligus prihatin dengan sikap dan kearogansian lelaki itu. Bagi saya, meladeninya itu tidak ada guna dan hanya permalukan diri sendiri.
Jika kita mau membuka hati dan melihat realita itu, banyak di antara kita yang bersikap seperti itu. Bisa jadi laki-laki itu adalah saya atau Anda.
Disadari dan diakui, atau tidak, kita sering bersikap adigang, adigung, adiguna terhadap orang lain. Kita merasa lebih kaya, hebat, pintar, berkuasa, dan ter-istimewa dibandingkan dengan orang lain. Sikap arogan yang membuat kita kehilangan kehormatan, karena mengkerdilkan diri.
Saya mengambil air suci dan membuat tanda salib.
“Siapakah saya ini?”
Sejatinya, kita ini bukan siapa-siapa tanpa belas kasih Tuhan.
Gusti nyuwun kawelasan.
…
Mas Redjo

