Red-Joss.com – Ikutilah suara hati, karena kita tidak bakal dibohongi atau dijerumuskan, tapi dilindungi dari hal negatif dan pengaruh jahat. Dengan membuka diri dan peka mendengarkan suara hati, kita menolak yang jahat untuk jadi pribadi yang baik.
Sederhana dan mudah? Oo, tidak sesederhana dan semudah itu. Karena, sesungguhnya, kita diajak agar makin peka dan jeli mengenali suara hati itu.
Saya jadi teringat pengalaman teman, DW. Ketika ia mengikuti pendidikan tenaga keamanan (satpam) di LS. Sang instruktur menantang peserta didiknya untuk mengalahkannya dalam pertarungan bebas.
Kata-kata instruktur yang menusuk perasaan itu membuat darah DW mendidih untuk meladeninya. Tapi ia segera sadar diri dan mencoba mengingatkan instruktur itu dengan baik. Karena hal itu tidak pantas diucapkan di depan peserta didik.
Sekali lagi instruktur itu menantang DW, tapi tidak diladeni.
Seusai latihan DE lepas kontrol, “Nggak takut dicekik penghuni sini…”
Waspadai, Itu Dari Yang Jahat
Jam 2-3 dini hari, suasana di mess gempar, karena terdengar suara teriakan minta tolong. Ternyata, instruktur itu yang menjerit-jerit ketakutan. Tubuhnya menggigil dan wajahnya pucat pasi. Menurut ceritanya, ia hendak dicekik raksasa.
Ada juga cerita DW tentang teman kantor yang songgong pamer jimat. Karena penasaran, DW pinjam jimat itu untuk melihat ujudnya.
Malam itu, sepulang bekerja, DW meletakkan jimat itu di atas lemari, lalu pergi mandi. Teman satu mess DW yang sedang tertidur itu, tiba-tiba menjerit sambil menggedor pintu kamar mandi. Ketika ditanya, teman itu juga hendak dicekik oleh raksasa yang bertaring.
Dari 2-3 kali pengalaman yang cukup menyeramkan itu, DW lalu menanyakan hal itu pada Ayahnya, sebenarnya siapa yang menjaga atau melindunginya. Malaikat atau si jahat.
Ayah DW dan saya sepakat, bahwa yang melindung DW itu bukan malaikat, melainkan dari yang jahat.
Alasannya sangat sederhana, setan itu senang berkamuflase, pura-pura bersikap baik untuk memperdayai para korbannya, supaya lengah dan menguasai jiwanya.
DW semestinya tidak menunjukkan kelebihan atau kemampuannya, meski ditantang, diremehkan, bahkan sekalipun dihina! Lebih baik mengalah dan bersikap rendah hati. Bukan ingin membalas orang yang sombong atau mencobai jimat itu. Melainkan mengasihi dan mendoakan orang itu agar sadar diri dan insyaf.
Sesungguhnya, perasaan sombong dan tinggi hati itu berasal dari yang jahat.
Sesungguhnya suara hati itu mengajar dan mengajak kita untuk jadi pribadi yang rendah hati. Tidak bermegah, kendatipun kita sukses dan berprestasi. Karena hanya Allah yang layak dipuji dan disembah.
Percayalah, motivasi dan tujuan yang baik itu hasilnya pasti baik karena berasal dari Allah Yang Mahabaik.
Suara hati suara kasih Ilahi.
…
Mas Redjo

