Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Karakter itu seperti pohon yang kokoh dengan akar tertanam kuat di dalam tanah, sedangkan keteduhan yang diberikannya hanyalah nama baik atau reputasi.”
(Abraham Lincoln)
Kekeliruan Laten
Hidup dan aneka usaha manusia memang selalu berproses dan bukanlah sesuatu yang bersifat instan serta seketika. Namun pada realitasnya, patut disayangkan, karena masyarakat kita keliru memaknakannya.
Mengapa dikatakan sebagai sebuah kekeliruan laten? Masyarakat kita cenderung tidak mampu menghargai budaya (kultur) dari sebuah proses. Mereka bahkan cenderung memaksakan diri agar segera menuai sebuah prestasi. Bukankah sikap kebablasan ini sudah merupakan sebuah kekeliruan laten?
Antara Karakter dan Reputasi
“Di bumi ini banyak sekali orang yang jauh lebih mementingkan reputasi daripada karakter. Padahal karakter adalah diri kita yang sesungguhnya, sedangkan reputasi adalah diri kita menurut anggapan orang lain,” demikian Stephie Kleden Beetz dalam bukunya “Merajut Kata-kata.”
Stephie Kleden Beetz mengisahkan, bahwa suatu hari, datanglah seorang suami bersama istrinya untuk bercurhat soal kemacetan bisnis toko cat mereka.
Keduanya tampak belum siap mental. “Mengapa bisnis kami macet. Gagal di sana, terbentur di sini. Kami kehilangan harapan.” Keluh suami istri itu.
“Anda berdua mungkin lupa, bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah kerabat erat, ibarat kembar siam. Banyak penemu besar dan olahragawan ternama mencapai sukses gemilang setelah melewati kegagalan demi kegagalan. Sebelum sampai ke puncak penemuan besarnya, Thomas Alva Edison, misalnya, sudah mengalami kegagalan lebih dari 10 ribu kali. Pada saat begitu, seseorang diuji karakternya, kokoh atau lembek.”
(Merajut Kata-kata)
Budaya Instan yang Meresahkan
Kini masyarakat kita bagaikan pasien yang kejangkitan ‘virus budaya instan’. Karena sudah sangat sering mereka mengeluhkan kegagalan hidup dan usaha mereka, tapi tanpa ada upaya untuk mengatasinya. Mereka berpendapat, bahwa setiap usaha harus segera membawa hasil. Dampaknya, bahwa pandangan sempit ini, justru telah menyeret dan memenjarakan nurani mereka ke lembah stres serta putus asa yang berkepanjangan.
Saya bahkan mencoba membayangkan, bahwa betapa kokohnya karakter serta jati diri penemu bola lampu listrik itu, Thomas Alva Edison, yang bahkan hingga 10.000 kali mengalami kegagalan.
Ketika lebah yang tak bernalar itu berbudaya, ternyata telah mampu membangun istana, berupa sarang yang sempurna, maka bagaimana dengan kita manusia?
Milikilah dulu sebuah karakter handal, sebelum Anda ingin berlagak!
…
Kediri, 31 Januari 2025

