Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Non multa, sed multum“
(Utama kualitasnya, dan bukan jumlahnya)
…
Sungguh, kita manusia adalah makhluk yang mudah terjebak dan tertarik pada hal-hal yang eforia, lahiriah dan bahkan sering mengabaikan kualitas serta isinya.
Tiga Jenis Manusia
Di dalam proses dan dinamika kehidupan ini, kualitas kehidupan kita, dapat disimbolkan dan digolongkan ke dalam tiga jenis manusia.
- Manusia Daun: alias manusia musiman!
Dia akan segera beranjak dari sisi Anda setelah semusim berlalu. Dia bahkan tidak sanggup untuk berlama-lama dan bertahan di sisi Anda, tatkala diguncang prahara hidup.
Dia ibarat dedaunan nan rapuh yang mudah rontok tatkala diterpa badai ganas. Inilah jenis manusia musiman.
- Manusia Ranting: dia sedikit lebih kuat daripada manusia dedaunan. Namun, kehadirannya perlu diuji lagi.
Mengapa? Tatkala dia dihadang turbulensi, ternyata sangat mudah patah terkulai dan tak berdaya. Dia ini tergolong sebagai jenis manusia yang juga tidak bertahan lama bersama Anda.
- Manusia Akar: dia jauh lebih kuat dan dewasa daripada jenis manusia dedaunan dan reranting.
Dia dapat diandalkan, karena sikap kemandiriannya dalam bekerja keras. Dia tidak membutuhkan pengawasan dan pengontrolan dalam proses hidup ini.
Tatkala dihadang turbulensi, percayalah dia bertahan kokoh. Karena dia memang tertancap sangat dalam di dalam tanah kehidupan ini.
Dampak bagi Hidup dan Kebersamaan
Bahagia atau sengsara dalam kehidupan ini, ternyata juga sangat bergantung dari kehadiran dan keberadaan pribadi-pribadi yang berada di sisi Anda.
Sungguh vital dan nyata, betapa penting dan berpengaruh kehadiran sesama di sisi kita. Karena kita akan menerima dampaknya sebagai sebuah konsekuensi logis.
Anda Jenis yang Mana
Adagium berbahasa Latin “Non multa, sed multum,” yang berartu bukan banyaknya, melainkan mutu dan kualitasnya,” ini semoga sanggup menginspirasi kita di dalam ajang kehidupan yang menantang ini.
Anda, saya, dan kita sendiri yang pertama-tama jadi pribadi yang kokoh kuat sebagai jenis manusia akar.
Untuk itu, sangat diharapkan, agar kita tidak gegabah untuk bersikap menuntut orang lain harus hidup berkualitas; padahal di sisi yang lain, kita sendiri ternyata hanyalah sebagai pribadi yang berjenis dedaunan atau reranting belaka. Ironis, bukan?
…
Kediri, 30 Januari 2025

