Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Manusia, di saat datang pun pergi, ia tetap seorang diri.”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
Manusia, Makhluk Sosial yang juga Individual
Jika ditelusuri secara antropologis, bahwa manusia itu adalah makhluk ciptaan yang berjiwa sosial sekaligus personal alias individual. Bahkan filsuf Aristoteles menjuluki makhluk manusia sebagai ‘soon politicon’, makhluk yang suka menggerombol.
Di sisi yang lain fakta hidup telah membuktikan, bahwa manusia itu memang sendirian di saat turun dari rahim Ibu, dan di saat kematian juga ia sendirian.
Tulisan refleksi ‘Kesendirian’ adalah tentang makhluk manusia dalam konteks kesendiriannya. Bahwa riil, ia tercipta, terlahir, dan akan mati di dalam kesendirian.
Sang Ciptaan Terunik
Sang ciptaan yang terkesan paling unik dan aneh ini dalam keseluruhan dinamika hidupnya, memang sulit untuk ditebak, bahwa siapakah sejatinya dia, dan apa pula maunya?
Bahkan sering kali dia hadir dalam suatu eksistensi yang dapat membingungkan. Di satu sisi dia dapat dianggap sebagai makhluk ciptaan yang sungguh sadar akan eksistensi dirinya, namun di sisi lain, tak pelak dia bahkan dapat melupakan dirinya.
Di atas segalanya itu, fakta hidup telah membuktikan, bahwa pada dasarnya, makhluk manusia itu memang sebagai ciptaan yang sendirian alias seorang diri.
Sekali pun di dalam ziarah hidupnya dia telah membentuk suatu persekutuan hidup dalam wujud sebuah rumah tangga alias keluarga. Artinya di dalam kesendiriannya, bahwa si individual itu akhirnya sanggup pula untuk mengikat kesendiriannya dengan pribadi yang lain, baik sebagai suami atau istri dan yang bahkan kelak akan memiliki sejumlah anak.
Kebersamaan yang akhirnya dapat membentuk sebuah wadah berupa keluarga ini tidak serta merta meniadakan eksistensinya dari status kesendiriannya.
Hal ini dapat terjadi dan dibuktikan, tatkala individu itu berada di dalam suatu keterasingan serta kemeranaan hidup: kesepian, kedukaan, kerinduan, cekcok, sakit, dan bahkan di saat kematian. Bukankah semua realitas pahit pedih itu justru dihadapinya seorang diri?
Di saat duka nestapa itu, sekali pun dia sedang berada bersama istri atau suami dan bahkan di tengah riuhnya gurauan anak-anaknya, tapi sesungguhnya, manusia itu pada dasarnya tetap sebagai seorang individu yang sendiri (sendirian).
Sendiri di dalam Kesendirian
Bahkan dia dapat menerawang seorang diri, mengenang kembali suasana hidup masa kecilnya, cita-cita hidup yang tidak dicapainya, kisah percintaan yang berurai air mata adalah realitas hidup yang justru dipikulnya seorang diri di dalam kesendiriannya.
Manusia Merenungi Nasibnya
Di dalam dan lewat kesendiriannya itu, manusia dapat merenungi diri akan nasibnya, juga di dalam kesendiriannya.
Bukankah pada langkah paling akhir dalam ziarah hidup ini, pengembara itu akan berlangkah terlunta dan tertatih, juga seorang diri.
“Tuhan, jiwaku tidaklah tenteram, sebelum aku beristirahat di dalam Engkau!”
(Santo Agustinus)
…
Kediri, 29 Januari 2025

