“Dengarkan dan ikuti suara hatimu, karena dia jujur, benar, dan setia.” -Mas Redjo
…
Dengan mengedepankan sikap rendah hati, kita belajar memahami rencana dan kehendak Tuhan.
Tidak berat, rumit, dan berbelit, tapi sederhana. Juga tidak harus nyinyir dan komplain, tapi kerjakan dengan hormat, patuh, dan segenap hati agar rencana-Nya jadi nyata dalam hidup kita.
Hal itu yang saya kerjakan, ketika setiap kali perjuangan saya mentok atau gagal. Bahkan sering kali saya turun kelas untuk memulai hal baru yang sepele dan remeh. Tapi saya tidak komplain, apalagi menggugat kepada Sang Pencipta, “Mengapa semua ini harus terjadi pada saya?”
Dengan sikap rendah hati, kita tidak mudah kecewa, merasa terdholimi, dan terluka. Tapi kita diajak untuk melihat hal yang baik dan positif di balik peristiwa itu. Anugerah dan hikmat-Nya itu nyata!
Tidak sekali dua saya mengalami, tapi bahkan merasakan sepanjang hidup ini. Anugerah Tuhan itu di luar hitungan matematika kita.
Jujur, awalnya sulit untuk menerima kenyataan yang bertolak belakang dengan impian itu. Menyesaki dada ini, pahit, dan sakit!
Beruntung, saya disadarkan Guru Agung. Nasihat-Nya membuat saya terjaga dari mimpi buruk. Bahwa untuk berhasil dan sukses itu adalah hikmat (Pengkhotbah 10: 12).
Ketika harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan, kita tidak harus reaktif, mencari kesalahan atau menyalahkan orang lain. Kita diajak bersikap rendah hati, tabah dan sabar. Dengan berefleksi diri, kita belajar menemukan hikmat Allah yang tersembunyi.
Selalu mendengarkan suara hati, karena dia jujur, benar, dan setia.
Carilah Kerajaan Allah terlebih dulu, maka semua akan ditambahkan kepadamu (Matius 6: 33).
…
Mas Redjo

