Simply da Flores
…
1.
Mengembara mengejar waktu
berlari menjaring mimpi
terdengar lirih suara memanggil
jauh di puing jejak telapak kaki
dalam di tubir debu tanah
Suara kembaran dalam rahimku
Suara doa Ibu yang mengandung
Suara sapaan kasih Mama yang mengusui dan membesarkan
Suara nasihat heroik Ayah
Suara kakak adik sanak saudara
Semua mereka di tanah lahirku
Mengapa aku ditakdirkan terlahir di sana?
2.
Ketika lelah penat merangkul raga
saat sepi di telapak suka duka
waktu nurani lunglai dan jiwa tak berdaya
Terngiang wajah para tetua kakek nenek
Terbayang kisah cerita kearifan leluhur
Teringat sakral ritual adat budaya
Terbayang ari-ari dan tali pusar
yang terpatri di kampung halaman
tanah tumpah darahku
Rindu kembali membara di dada
aku sudah lama di rantau orang
Masihkah berarti memoarku di sana?
3.
Jarak antara tanah lahir
sudah makin jauh dengan langkah kelana
Waktu antara tempo doeloe hadir
sudah sekian lama berbeda dengan saat kini mengembara
Kisah cerita terus bersemi
mengukir jejak langkah mimpi
Pengalaman suka duka jadi pelangi
menulis aneka syair fakta dan harapan
Rindu kampung halaman ada di sini
terpatri dalam desah nafasku
Damba tanah lahir ada di sini
terpahat dalam jiwa ragaku
Desir darah menagih untuk pulang
kembali ke dalam pribadi
melukis jawaban asali
“Aku berasal dari mana dan hendak pergi ke mana?”
4.
Aku sedang menggugat diri
antara fakta dan arti makna
Siapakah aku ini?
Untuk apa dan siapa kehadiranku?
Jawaban dan keputusan dinanti
entahkah rindu damba ini berarti
Aneka fakta tak bisa dibantah
banyak alasan bisa dideretkan
untuk katakan ya atau tidak
Apakah perlu kembali ke kampung
Untuk apa pulang ke tanah lahir
Mengapa aku terlahir di sana
tetapi sekarang ada di rantau orang
Entah sampai kapan
rindu damba ini ada jawaban?
5.
Aku masih ada dan terus menjadi
Waktu mengubah siapa aku
Jarak membentuk apa sosok pribadiku
Aku tahu dan tak tahu ke mana pergi
Pengalaman setia menulis keputusanku
debu tanah menyimpannya setia
angkasa biru melihatnya lestari
Kampung halaman terus menanti
Tanah lahir selalu mencari
Kapan saatnya aku kembali
merangkul kemarin menyambut esok
pada telapak kaki dan putih rambut
pada jawaban jiwa raga bersemi
pada fakta dan mimpi-mimpi
pada pucuk jasmani dan rohani
yang berpadu satu dalam pribadi

