Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Sekarang aku tahu, siapakah aku ini?”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
“Jangan lupa dan jangan pula kehilangan identitas serta jati dirimu, Nak!”
Sepenggal nasihat paling arif itu mengalir deras dari bibir tulus sang bijaksanawan.
Sadar akan Identitas Diri
Masih ingatkah kita dengan sebuah kisah indah nan interisan tentang sebutir telur elang rajawali yang dierami oleh seekor induk ayam dan kelak anak elang itu dapat hidup bersama anak-anak ayam? Baru di suatu saat kelak, anak elang itu pun akhirnya mulai sadar, bahwa sejatinya, dirinya bukanlah anak ayam?
Boneka Garam
Seorang warga kampung yang merasa dikucilkan dan dijauhi oleh sesama warga kampung datang dan meminta bimbingan kepada seorang sesepuh kampung.
Begini dongeng dari sesepuh kampung itu:
Sebuah boneka garam berjalan beribu kilometer menjelajahi daratan sampai akhirnya ia tiba di tepi laut. Ia amat terpesona oleh pemandangan air laut yang biru berkilauan yang sangat berbeda dengan daratan yang telah dilihat dan nikmati selama ini.
“Siapakah kau?” tanya boneka garam itu kepada laut.
Sambil tersenyum laut itu menjawab, “Masuk, kemarilah dan nikmatilah!”
Maka, boneka garam itu menceburkan diri ke laut. Makin tenggelam masuk ke laut, ia kian larut dan akhirnya tinggal segumpal kecil. Sebelum gumpalan terakhir larut, boneka itu berteriak bahagia, “Sekarang aku tahu, siapakah aku ini?”
Seseorang yang dikucilkan dan dijauhkan itu, kini sedang tekun merenungkan isi kisah itu sambil berpikir keras!
(Hiro Tugiman)
101 Pernik Kehidupan
“Sekarang aku tahu, siapakah aku ini?”
Ada tiga buah pertanyaan filosofis dan reflektif yang sudah setua manusia.
“Manusia, siapakah engkau? Dari manakah engkau, dan hendak ke manakah engkau?”
Seringkali dalam hidup ini, kita manusia hidup tanpa sadar dan bahkan lupa diri serta juga lupa identitas diri. Artinya kita hidup seadanya, asal saja menjalankan hidup dengan seadanya, dan bahkan tanpa pernah mau merefleksikan eksistensi dari kemanusiaannya.
Sesungguhnya kita perlu sadar dan tahu diri agar kita dapat bertindak bijaksana. Itulah tujuan sentral dari sikap tahu diri, ialah agar kita dapat bersikap bijaksana.
Kisah Boneka Garam itu mengajak kita agar hidup sadar dan sesuai dengan adat budaya serta kepribadian khas kita.
Hindarilah sikap hanya meniru-niru dan salah menempatkan diri di dalam masyarakat. Mengapa? Sejatinya kita tidak dapat berbahagia, jika kita salah dalam memahami serta menempatkan diri. Dalam kondisi timpang ini, kita tidak mampu untuk terus berkamuflase ala bunglon.
“Jadilah dirimu sendiri!”
…
Kediri, 26 Januari 2025

