“Tidak harus ditolak atau dihindari, tapi dihadapi dengan penerimaan diri. Karena lahir dan mati kita juga sendiri.” -Mas Redjo
…
Tidak harus mencari kesalahan atau menyalahkan orang lain, tapi kesiap-sediaan hati agar kita berani menghadapi kenyataan hidup ini dengan ikhlas.
Sejatinya hidup ini tidak sekadar direncanakan, tapi juga disiapkan, diarahkan, dan fokus menuju jalan pulang. Kita kembali kepada Tuhan. Karena kita adalah milik-Nya.
Resepnya juga sederhana, yakni kita harus terus menerus bertanya dan mengikuti suara hati agar kita tidak disesatkan oleh keegoisan, ketakutan, dan bayangan sendiri.
Hidup ini tidak sekadar dijalani, ibarat air yang mengalir. Tapi untuk dikelola dengan baik dan bijaksana.
Hidup ini tidak sekadar dipenuhi dengan perencanaan kosong. Tapi juga untuk diisi dengan bukti dan pemaknaan diri. Karena ‘urip kuwi urup’.
Ketika hidup ini diarahkan dan fokus pulang kepada Tuhan, bagaimana dengan kesiap-sediaan kita?
Ketika mudik ke kampung, kita tentu tidak pulang dengan tangan kosong. Tapi kita membawa oleh-oleh untuk orang yang dicintai dan dikasihi. Teristimewa lagi, saat kita kembali pada Tuhan. Dipastikan kita juga ingin memberikan persembahan hidup yang terbaik bagi kemuliaan-Nya.
Selalu berefleksi diri agar kita tidak disesatkan oleh keinginan sendiri. Kita makin menjauh dari tujuan untuk kembali pada Sang Pencipta.
Menjalani hidup ikhlas hati, ketika kita berani melepas beban pikiran untuk berserah total kepada Tuhan. Sehingga di hati ini tiada rasa kekhawatiran, ketakutan, dan pikiran negatif lainnya.
Begitu pula di saat menapaki hidup sendirian di senja usia. Ketika kita berjauhan dengan anak-anak dan saudara.
Kita tidak harus merasa sendirian dan kesepian. Karena keluarga terdekat kita adalah tetangga. Dengan menjalin hubungan baik, mereka bakal peduli pada kita.
Orang merasa sendiri, kesepian, dan menderita itu, karena jauh dari Tuhan, tapi dekat dengan si Jahat yang sombong dan egoistis.
Berbeda, jika kita mau membuka hati, menjalin hubungan kasih dengan Tuhan lewat jalan peduli dan berbagi pada sesama.
Kesepian dan kesendirian itu juga dapat dikendalikan dan diubah jadi sukacita. Ketika kita berintimasi dengan Tuhan lewat Ekaristi Kudus, membaca KS, kontemplasi salib, dan sebagainya.
Percaya dan imani, sejatinya kita tidak hidup sendirian, karena Tuhan senantiasa menyertai kita, bahkan sampai akhir zaman! (Mat 28: 20).
…
Mas Redjo

