Red-Joss.com – Air bah itu datang pada tahun 2007, ketika banjir setinggi 3 meter secara perlahan menenggelamkan perumahan kami yang lama.
Tak satupun yang berkesan di masa lalu terselamatkan. Beberapa buku dari ratusan buku yang saya miliki, yang sempat kami raih pun, akhirnya harus dibakar sebab halaman demi halaman ‘nglinthing’ tidak dapat dibaca.
Semua album photo tenggelam dan beberapa foto yang saya coba selamatkan, pelan tapi pasti berubah warna dan akhirnya pudar tidak jelas photo tentang apa.
Nyaris tidak ada satu pun photo masa lalu yang tersisa, sekadar untuk menunjuk jari saya pernah di sana, di sana, dan di sana. Semuanya tiada, disapu banjir tanpa sisa.
Seolah saya tidak memiliki apa pun sekadar sarana bercerita, tentang masa laluku.
Di dinding ruang tamu rumah kami, kecuali satu photoku yang sedang main golf yang tidak lagi memiliki kisah, tak ada satu pun terpaku atau tertempel. Tak ada!
Di CV, Curriculum Vitae, yang berisi deretan sangat panjang kisah profesional dan pelayanan yang sudah kulalui, kini juga tersimpan senyap dalam keheningan laptop kesayanganku.
Ketika pekan yang lalu saya melayani rekoleksi untuk para Pelayan Tuhan, sempat diminta cv itu, namun panitia rekoleksi akhirnya hanya mampu menampilkan satu penanda yang sangat singkat, dosen. Wis, itu saja cukuplah.
Apakah fakta-fakta itu adalah tanda? Tanda bahwa hidupku akan berakhir? Kapan itu? Saya tidak tahu, tak ada yang tahu dan hanya Allah yang tahu.
Bagiku, semuanya itu adalah ‘alert!‘ Sebuah wanti atau kentongan kehidupan, untuk tidak melekatkan diri pada masa lalu.
Maka, saya memutuskan untuk tidak usah menoleh ke masa lalu. Tapi tatap terus hari depan, dan tetaplah berkarya dengan kemampuan-kemampuan yang masih ada, yang masih saya jaga dan diizinkan Tuhan, untuk menyatakan, bahwa Tuhan tak pernah pergi, “not even one second,” menjauh dari hidupku.
Keyakinan inilah yg terpateri di hatiku, menguatkan pikiranku, dan menuntun mulut serta jari-jariku, betapa berharganya aku di mata Tuhan.
Jawabanku : “Tuhan, pakailah aku sesuai dengan rencana-Mu.”
…
Jlitheng

