50 Simply da Flores
…
1.
Angin bawa kabar ke mari
kulihat buldozer meraung menggilas
jagung rezeki keluarga petani
dan tanaman dapur para perempuan
Kudengar jerit suara tak berdaya
mengais keadilan di roda kepongahan
sedangkan pengemudinya juga terbelenggu nasib
Para gajah cerdik pandai berkilah
mereka yang terpelajar berargumentasi
Demi hukum dan kebenaran
Demi hak asasi dan kemanusiaan
Demi aturan dan wibawa negara
Ada para korban kebingungan penuh tanya
kepada siapa mesti berharap
2.
Faktanya saat ini
Ada korban dan yang dikorbankan
Sopir buldozer demi nasib perut
Para petani malang demi asap dapur
Mereka yang lemah diadu berkelahi
dan selalu pasti jadi korban
Pihak lembaga adat membisu
mungkin karena takut jadi korban
Pihak lembaga agama diam
padahal yang jadi korban umatnya
Pihak penegak hukum berbicara
atas nama aturan hukum negara
Pihak pejabat pemerintah bertindak
demi menjaga wibawa negara
Pihak pejuang HAM berjibaku
Maka
ada tanya yang menggelitik
Apakah yang jadi korban orang asing
Apakah yang membawa buldoser karena selera pribadi
Adakah ini sebuah penyelesaian bijaksana?
Siapa pemilik kebenaran dan kemanusiaan yang adil beradab?
3.
Buldozer itu mesin tak punya otak, hati dan jiwa
Sopirnya menggerakkan karena diperintah
Yang menyuruh yakin dia menang dan benar
Lalu,
untuk siapakah kemenangan dan kebenaran itu?
Apakah untuk perusahaan dan aturan?
Apakah demi bangsa dan negara?
Apakah demi keselamatan umat dan kemuliaan Allah?
Kabar angin bahwa perusahaan milik sebuah lembaga agama
dan yang sedang menangis lara
adalah umat dari lembaga agama itu
Mengapa kasusnya berlarut begitu
Sampai kapan ada jalan bijaksana?
4.
Tanaman kebun ladang tak mampu lari
mereka hadir demi perut nasib petani
Tanaman tak tahu hukum dan aturan apa pun
hanya tumbuh karena hukum alam
Maka
ketika mesin tanpa otak dan hati
menggilas dan menghancurkan
mereka pun tak mampu lari
Hanya debu tanah jadi saksi
lalu bertanya tanpa suara
“Apakah engkau sopir tidak makan?
Apakah yang menyuruhmu makan ayat-ayat hukum?
Apakah ini doa para pembela dan pemilik perusahaan?
Apakah kalian tidak akan kembali ke debu tanah?
Jawablah dengan jabatan dan kecerdasan jiwamu
5.
Para pejuang HAM berjibaku
demi membela hak para korban
Anehnya adalah membela dengan hukum positif
yang juga dipakai perusahaan
yang juga dijaga pejabat negara
Maka
akan ada soal kalah – menang
pasti berseteru soal benar salah
selalu ada urusan kuat lemah
biasa ditagih soal bukti kepemilikan
Entah sampai kapan selesai
Entah ada keadilan bagi kemanusiaan yang beradab
Dan
para korban tetap menjerit lara
air mata dibasuh buldoser
lara derita dan darah mengaliri debu tanah
Komunikasi solusi terbawa angin
entah sampai kapan dan di mana
6.
Ketika bulbuldozer menggilas nasib petani
Saat ayat-ayat kesombongan menoreh luka lara dan air mata
Ketika kasus berlarut menumpahkan darah
dan bisa merenggut nyawa
Ada deretan tanya menggelitik
Di manakah saktinya ritual adat dan kearifan leluhur
Ke manakah doa dan mantra suci para tokoh agama
Apa itu solidaritas sosial dan HAM
Masihkah ada kebijaksanaan untuk solusi?
7.
Saat ditelisik dan dicermati fakta
mereka yang sahaja dan korban
Apakah mereka bukan pewaris adat, umat dan rakyat NKRI
Apakah mereka teroris atau pelaku kekerasan bersenjata
Untuk siapakah hukum dan NKRI ini sebenarnya
Lebih aneh lagi,
pejabat yang menegakkan hukum
dan para pejuang HAM
adalah anak generasi adat
Mereka pun sesama umat dengan para korban
Semuanya sesama warga bangsa NKRI
Di manakah komunikasi yang menghasilkan solusi?
8.
Angin bawa kabar lara nestapa
Ada pantai dan laut dipagar
tetapi seolah pejabat setempat tak tahu
Ada tanah warga dan suku diserobot
lalu sudah ada sertifikatnya untuk perusahaan
Alasannya demi investasi dan Program strategis Nasional
Tak peduli warga sederhana yang menolak
atas dasar warisan leluhur
demi periuk nasi dan anak cucunya
Ada penambang dan pembabat hutan
yang halalkan segala caranya
bahkan melibatkan aparat keamanan dan hukum
sehingga masyarakat pemilik diam tak berdaya
Nasib rakyat kecil terus tertindas
Entah sampai kapan?
Entah sampai datang Ratu Adil
9.
Ketika mengadu ke penegak hukum
biayanya mahal bagi para pembela
Ketika berontak melawan demi haknya
sering disebut penghalang pembangunan atau teroris
Ketika para pegiat sosial membantu rakyat
nasibnya tragis dan dicap profokator
Lalu…
Untuk apa hadirnya NKRI?
Untuk siapa semua pembangunan ini?
Akankah hukum negara adil bagi seluruh rakyat?
Berapa banyak lagi buldozer, sensor, alat berat berhadapan dengan air mata, lara derita, nyawa dan darah rakyat?
10.
Lagu Indonesia Raya terus berkumandang
“bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
Merdeka… Merdeka
untuk Indonesia Raya
Entah…
siapa yang merdeka
siapa warga negara Indonesia
Bendera Merah Putih berkibar
merah itu berani
putih itu suci
katakan benar jika benar
katakan salah jika salah
Tetapi hukum bisa diatur dan dibayar
Dan
Pancasila dasar negara Indonesia
sedang dijadikan pajangan belaka
sering diperdebatkan dan ditafsirkan
bukan lagi sumber dari semua hukum
Wajah bangsa tidak baik-baik saja
ada aneka problema mendera
Cita proklamasi sedang pudar
Negeri ini ditumbuhi belantara aturan sesuai kepentingan para pemilik modal, pembuat kebijakan dan politisi
Deretan kisah lara rakyat terus bertambah
Ada serpihan kalimat tempo doeloe
“Melawan penjajah asing memang berat
Tetapi
jauh lebih sulit melawan penjajah dari bangsa kita sendiri”
Buldozer, alat berat, senjata terus mengilas nasib rakyat

