Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Lidah manusia
memang tak bertulang.”
(Filosofi Kehidupan)
Pernahkan Anda mendengar sebuah ungkapan, bahwa “Sungguh, lidah manusia itu memang tidak bertulang?” Atau juga Anda masih mengingat sepenggal syair lagu, “Memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata, tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati?”
Sungguh sangat transparan, pesan bermakna yang diamanatkan kepada manusia, baik lewat ungkapan (idiom) atau lewat syair lagu itu.
Bukankah di dalam konteks pemaknaannya, hal ini justru mau mendeskripsikan, bahwa alangkah gampang dan pandainya manusia untuk ‘bersilat lidah.’ Juga betapa mudahnya dia berkelit dan memutarbalikkan suatu fakta atau peristiwa.
Lidah
Lidah itu berbisa
Lidah, kecil bentuknya
tapi besar bahayanya.
Banyak nestapa akibat lidah yang berbisa
Goyangan lidah
susah dijaga dan diatur.
Leher manusia dapat dipotong karena:
ujung lidah, ujung pena, ujung bayonet
Lidah tidak bertulang
tapi kekuatannya melebihi sepuluh tenaga kuda
Celakanya,
lidah tak dapat diikat
meskipun di dalam mulut kita
(Hiro Tugiman)
101 Pernik Kehidupan
Ada Apa dengan Lidah
Tulisan filosofi dan reflektif ini tentang lidah. Ada apa dengan lidahmu, wahai manusia?
Inilah Sejumlah Titik Pahitnya
- Lidah itu berbisa. Artinya sekerat lidah manusia itu, ternyata ‘berancun.’ Bukankah racun itu selalu dapat berakibat maut?
- Goyangan lidah itu sulit dijaga dan diatur. Artinya lidah manusia itu memang keras kepala dan tegar tengkuk. Dia, bagai si angkuh yang tidak tahu diri. Alias si lupa diri. Ternyata betapa congkaknya.
- Lidah tidak bertulang. Artinya dia itu bersifat ‘lentur dan elastis.’ Ia mudah untuk ditekuk dan digulungkan.
- Lidah itu tidak dapat diikat atau ditambatkan. Artinya dia akan bersikap liar dan nanar. Mudah dilontarkan, namun mustahil untuk ditarik kembali alias sudah kasip. Bukankah yang telah terucap itu terbang entah ke mana dan tidak seorang pun yang sanggup untuk menahannya.
Refleksi Hidup
Setelah Anda mencermati saksama spirit dari tulisan ini, apa yang Anda ingin simpulkan sebagai sebingkis kado bagi kehidupan?
“Jadilah pribadi yang senantiasa sadar diri dan rendah hati!”
“Masuk dan menukiklah ke kedalaman sumur sadarmu, bertanyalah, siapakah aku ini?”
“Nosce te ipsum!“
(Kenalilah dirimu)
Kediri, 24 Januar 2025

