“Membiasakan diri untuk datang lebih awal dari jam yang telah ditentukan. Waktu adalah sangat berharga, melebihi harga batu permata.” –Mas Redjo
Gara-gara ketinggalan pesawat, karena jalanan macet, saya ketemu jodoh. Saya membeli tiket untuk penerbangan berikutnya, dan ternyata duduk bersebelahan dengan gadis cantik yang sekarang jadi istriku.
Pengalaman pahit, tapi manis itu membuat saya sadar diri untuk hidup berhikmat, dan tidak mengulangi lagi. Terutama setelah istri saya mengingatkan akan kasih Tuhan Yesus. Ketika kita terlambat mengikuti Misa Ekaristi Kudus.
Membeli tiket kereta atau pesawat itu mudah. Jika kita terlambat, dan apalagi tidak mengikuti Tuhan Yesus, kita bakal tertinggal dalam penyesalan.
Aneh dan faktanya, banyak orang menyepelekan, meremehkan, dan merasa benar dengan sikap sendiri. “Yang penting itu hati. Tuhan tahu dan melihat kesibukan kita.”
Berpikir yang penting hati ini adalah sombong, karena kita merasa jadi orang baik dan benar. Tapi menurut versi sendiri.
Buktinya, banyak orang lebih takut terlambat ketinggalan pesawat, kereta api, atau terlambat tiba di kantor. Ketimbang kita terlambat datang ke Gereja untuk beribadah.
Tidak seharusnya sikap yang salah kaprah ini dipiara dan dikembang-biakkan dalam keluarga beriman. Karena sejatinya kita bergantung sepenuhnya pada karunia kasih Tuhan. Kita diciptakan secitra dengan-Nya, sehingga kita harus menyiapkan diri dan membuka hati untuk menghadap ke hadirat-Nya.
“Marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4: 7-8).
Mas Redjo

