“Jangan menyalahgunakan kepercayaan orang lain, karena hidup ini adalah nilai pertanggung-jawaban kita kepada Tuhan.” -Mas Redjo
…
Fakta itu tidak dapat diingkari. Tapi berat ringannya nilai kepercayaan itu sepenuhnya bergantung pada kita yang menjalani dan mewujudkannya.
Dimulai dari keluarga sendiri. Bibit kepercayaan itu ditanam dan disemai oleh orangtua agar bertumbuh baik dalam hidup keseharian kita.
“Le, membangun kepercayaan itu sepanjang hidup. Sekali diingkari, sulit untuk ditegakkan lagi,” nasihat bijak Bapak terpatri dalam ingatan saya.
Maksud Bapak adalah agar saya menjalani dan mewujudkan hidup jujur itu dengan contoh keteladanan dalam keseharian. Tidak kamuflase. Jika bersalah, kita berani akui salah untuk meminta maaf, dan memperbaikinya.
“Kepercayaan yang cacat itu sulit dikembalikan ke bentuk asalnya. Tidak mungkin asli seperti semula,” tegas Bapak meyakinkan kami, anak-anaknya untuk tidak menyalahgunakan kepercayaan orang, tapi mewujudkan dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana kita bersikap jujur dan benar di hadapan Tuhan Yesus.
Menurut Bapak pula, ketika kita menanggapi panggilan Tuhan dan mengimani-Nya berarti kita harus siap sedia untuk diutus dan tidak mengecewakan-Nya.
Kita dituntut komitmen, konsekuen, dan setia menjalaninya, bahkan sekalipun harus menghadapi resiko yang terburuk.
Dipercaya orang itu karunia kasih Tuhan Yesus yang harus diwujud-nyatakan sebagai ungkapan pujian dan syukur kepada-Nya.
Kita dipercaya Tuhan Yesus untuk taat dan setia. Tuhan tidak salah memilih kita untuk menggenapi rencana-Nya (Efesus 1: 9-11).
…
Mas Redjo

