Simply da Flores
…
Aku tidak punya pondok berteduh
apalagi rumah dan istana megah
Aku sosok pengembara abadi
menemani derap irama Sang Waktu
Aku tak tahu dari mana datang
Aku tak paham ke mana pergi
Aku paling diandalkan manusia
maka
Aku sangat kenal pribadi manusia
meskipun manusia sering abaikan aku
Aku dengar rindu damba insani
“Aku ingin hidup seribu tahun
Aku ingin sejahtera bahagia
Aku ingin menjadi data digital
Aku ingin…”
Dan
Aku lihat manusia mengejar waktu
menjaring dengan kata-kata
merantai dengan belenggu angka
merayakan kata dan angkanya
Padahal waktu terus berjalan
manusia termakan perubahan waktu
Usia tak dapat ditahan selera
apalagi dengan harta curian
dan kuasa jabatan persekongkolan
Segalanya pasti berakhir ketika desah nafas berhenti
Pada tikus-tikus
aku ceritakan kisah manusia
mereka meniru perilakunya
lalu merasa bangga mencuri dan berpesta pora dengan korupsi
Pada kecoa aku kisahkan
bahwa manusia berwatak kecoa
suka berkelana dalam gelap
gemar memeluk kotoran sampah
dan merasakan sukses bergengsi
Pada ulat aku sampaikan juga
manusia senang dengan kotoran
berkubang dalam keserakahan
dan memakan janji dan sumpahnya
suka menjilat ludah sendiri
dengan bersaksi dusta berbohong
Manusia berguru
pada tikus, kecoa dan ulat
Ketika aku jelajahi hutan rimba
aku juga berkisah cerita
Pada dingin pepohonan
aku ingatkan bahwa kalian akan dibabat ludes
lalu sering dibakar hangus
Pada tanah padang, bukit dan gunung
aku sampaikan ancaman nasibnya
kalian akan dikuras dan digusur
untuk berbagai kepentingan manusia
yang jumlahnya semakin banyak
dan kerakusannya semakin membrutal
Pada margasatwa kami berkisah
rumah kalian akan dihilangkan
demi perkebunan dan tambang
untuk pemukiman dan aneka sarana modern
Banyak manusia sudah berubah
menjadi binatang buas seperti ular, serigala, babi dan harimau
Burung-burung diam ketakutan
karena nasibnya juga terancan punah
Melintasi danau dan samudra
aku juga berkisah pada mereka
bahwa semakin banyak sampah polusi
akan diantar manusia kepada kalian
Isi lautan terus dikuras manusia
dengan segala sarana canggih Iptek milenial
Bukan saja biotanya diambil
tetapi minyak dan mineral pun dikorek
demi aneka kebutuhan manusia
Pada angkasa dan planet
aku kisahkan dampak polusi dan rumah kaca
Manusia sedang merobek langit
untuk membangun istana di awan dan planet
hendak bercocok tanam dan berburu
dengan aneka sarana teknologi
Agar membangun kerajaan selera abadi
dan mau hidup seribu tahun
Aku angin
sejatinya luar biasa bagi manusia
karena mendukung desah alat nafasnya
Tetapi
karena biasa dialami selama ini
sering dianggap biasa-biasa saja
bahkan diabaikan dan tak berarti
Tetapi,
ketika batuk pilek dialami
mereka mulai panik berobat
ketika terkena gangguan pernafasan
mereka berjuang mencari pertolongan
Dan
ketika pernafasan berhenti dan mati
banyak yang berontak tak terima
bahkan mengutuk Sang Pemilik hidup
Aku hanya diam dan bingung
menyaksikan pikiran dan perilaku manusia
Sebab
aku juga tidak tahu di mana rumahku
dari mana datang dan ke mana pergi
Aku hanya pengembara mengawal Sang Waktu

