“Ketika logika tidak sejalan dengan kenyataan, kita jangan kaget atau heran, tapi refleksi diri agar hidup ini berhikmat.” -Mas Redjo
…
Karena sepahit dan seberat apa pun, kenyataan itu harus diterima dengan lapang dada dan penuh syukur. Jika kita tidak ingin kecewa, terluka, dan sakit hati.
Bagaimana tidak. Semula saya memprediksikan, ketika hubungan Israel dan Iran makin genting itu dipastikan harga minyak dunia bakal melonjak. Begitu pula dengan harga kemasan plastik yang jadi andalan usaha saya, seperti waktu perang Irak dan AS (2008).
Ternyata prediksi saya meleset, meski telah saling menyerang dan meluncurkan roket (Oktober 2024), mereka akhirnya berdamai. Para spekulan itu bermain di balik perang itu untuk menangguk untung?
Saya tidak mau meliarkan imaji. Tapi saya menyadari, bahwa bagi pengusaha itu semua ada masanya. Meskipun beradaptasi untuk mengikuti perubahan zaman.
Saya juga tidak cengeng untuk mengenang zaman keemasan dulu, ketika dunia usaha sedang berjaya. Tapi saya gunakan sebagai refleksi diri untuk menghadapi realita yang sebenarnya.
Lebih bijak saya membuka pikiran dan hati ini untuk menjalani realita sekarang ini guna menyongsong masa depan yang lebih baik.
“Apa rencana Tuhan atas hidup saya?”
Selalu berefleksi diri itu biasa saya lakukan, terutama di saat menemui jalan buntu. Di mana logika berpikir dan insting saya seperti kepentok dinding besi. Analisa berbisnis saya jadi tumpul, meskipun saya telah membaca banyak buku ekonomi, motivasi, dan kisah sukses para pebisnis. Faktanya?
Saya ingin menepi dan menyepi sejenak meninggalkan hiruk pikuk dunia usaha. Saya mohon petunjuk Tuhan untuk menentukan langkah dalam menghadapi krisis ekonomi global ini.
Fokus usaha, berjalan penuh iman, dan optimis saya melangkah mantap menyongsong masa depan dalam penyertaan Tuhan.
Bagi orang yang percaya, penuh iman, dan mengandalkan Tuhan itu tidak ada yang mustahil.
Niat ingsun!
…
Mas Redjo

