Simply da Flores
…
Aku sendiri di tengah keramaian
membawa seribu kisah kembara
dipacu bara sejuta tanya
mengejar waktu yang terus berlari
Entah sampai kapan bisa kupasung
Entah di mana bisa kutawan
dengan usiaku yang kian bertambah
dan sisa nafas yang masih diberi
Di tengah ramai kedai 88
Piring putih tersenyum ramah
bentangkan kanvas putih
di taman dua bola mataku
setelah kuteguk memoar kelana
dalam nikmat secangkir kopi pahit
Aku rehat sejenak menghitung tanya
Jemarkui dibawa berlari terbang
mengambil kuas di angkasa angan
menganyam warna-warni pelangi
biar bisa merajut syair
Raga kutinggalkan menikmati kopi
Pikiran mengembara bersama angin
menangkap cahaya di istana langit
Di depan cangkir tersisa ampas nasib
hitam pekat tetapi menggoda
Aku pindahkan pesona ampas kopi
pada hatiku yang sedang bergelora
pada ceria dedaunan hijau memori
pada hilir mudik jibaku orang berjalan
pada sosok mereka yang kurindukan
pada gelora rindu damba hati
Hasratku membakar jemari tangan
agar segera menulis bait syair memori
pada kanvas piring nasib
Pesona hitamnya kelam realitas
patrikan irama nada angan jadi lukisan
Aku tahu apa saja tanyaku
Aku sadar mencari jawabnya
Aku coba melukis potret diriku
dengan pesona ampas kopi
Siapakah aku kemarin dan sekarang
Ke mana aku pergi esok nanti
Pesona ampas hitam kopi nasib
mengajari jemariku melukis diri
Ada empat karya dipatrikan
Hatiku yang memasak suka duka
Potret diri dirangkul debu tanah
Hijau dedaun harapan meraih esok
Aku menulis, melukis dan bernyanyi
Aku duduk, berlari dan berkelana
Aku bertanya dan harus menjawab
Dalam pergulatan melerai sepi
kelana pribadi mengejar roda waktu
tak bisa ditahan memori
Aku terus ada dan menjadi
Aku berubah dalam derap waktu
Aku harus jalani takdir nasibku
Membuat keputusan menoreh makna
memilih warna dan sosok wajah
menulis syair dan menggubah lagu
Bersama nikmat kopi nasib
dan pesona ampas pekat pengalaman
sepi dan galau harus dihalau
suka duka mesti dijadikan sahabat
lara derita adalah cambuk nafas
Untuk meraih jawaban atas sejuta tanya
agar kuntum senyuman merekah
di taman alam dan sesama
agar irama nada mengalun indah
memeluk sanubari setiap insani
Karena mentari selalu pancarkan cahaya
dalam syair fakta kehidupan dunia

