Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Sungguh, betapa sulitnya manusia untuk bisa mendengarkan.”
(Amanat Hidup Sejati)
…
Sudah bukan merupakan sebuah rahasia, manusia adalah makhluk yang sangat sulit untuk bisa mendengarkan sesamanya. Artinya bahwa di sisi yang lain, manusia itu ternyata sangat suka untuk berbicara. Dia sangat ingin agar dirinya didengarkan oleh orang lain.
Kisah yang Memikat
Pada suatu kesempatan Santo Fransiskus Asisi mengajak sejumlah pengikutnya, “Mari kita pergi ke desa-desa untuk mengabarkan Injil.”
Di dalam perjalanan mereka bertemu dengan seorang pria yang menderita, karena beratnya beban hidup. Mereka berhenti dan mendengarkan rentetan keluhan pria itu.
Sambil meneruskan perjalanan, mereka bersua dengan seorang penjaga toko, petani, dan bahkan turut bermain dengan sejumlah anak kecil.
Di saat mereka hendak kembali ke Biara, mereka bersua lagi dengan seorang pria pemikul jerami. Santo Fransiskus sangat asyik berbicara dengan pria itu.
Ternyata, di sepanjang perjalanan sehari itu, ada pengikutnya yang merasa sangat kecewa dengan sikap Santo Fransiskus.
“Saudaraku Fransiskus, apa yang telah kita lakukan seharian ini, ternyata hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Bukankah kedatangan kita ke desa-desa untuk mengabarkan berita Injil sambil berkhotbah?”
Si Saleh itu segera menyahut, “Oh ya, tadi di sepanjang perjalanan itu, bukankah kita telah mengabarkan Injil?”
(Kisah-kisah Rohani Pembangkit Semangat)
Antara: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan
Bukankah isi pikiran kita tidak hanya berwujud dalam kata-kata, tapi juga lewat sebuah tindakan nyata. Bukankah di saat kita berpikir, kita juga sudah berbicara dan bertindak? Di saat kita bertindak, saat itu pula kita sedang berpikir dan berkata-kata? Karena lewat pikiran, Anda sebetulnya juga telah bertindak!
Perbedaan Persepsi
Bukankah kita seringkali mudah terjebak untuk memaknakan sesuatu hanya secara harafiah? Dampaknya seringkali kita sangat fanatik dalam bersikap dan menganggap, bahwa suatu tindakan itu salah, jika tidak sesuai dengan apa yang sudah tertulis atau yang dimaksud.
Padahal di sisi lain, kita perlu bersikap lebih realistis, luwes, dan humanis di dalam bersikap serta bertindak yang disesuaikan dengan sikon tertentu? Dalam konteks ini, orang Latin mempunyai adagium, “vacta, non verba.”
Kesalahpahaman serupa ini sering terjadi dalam dinamika kehidupan riil masyarakat kita.
Bukankah kekecewaan para pengikut Santo Fransiskus Asisi itu bertolak dari sebuah pemahaman yang sempit belaka? Atau juga oleh sebuah perbedaan persepsi belaka?
Bagi mereka, bahwa konteks pewartaan Injil itu harus lewat tindakan berkhotbah atau lewat sebuah pengajaran dogmatik.
Hendaklah seorang pewarta sejati, proses pertama yang dilakukannya ialah berupaya merebut hati para pendengarnya!
Karena bukankah kehidupan ini merupakan sebuah proses?
…
Kediri, 18 Januari 2025

