“Menghadapi persaingan usaha yang makin kompetitif dan berat itu, kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” -Mas Redjo
…
Nasihat Guru Agung itu bertumbuh subur dan mengakar kuat di hati ini, ketika saya menekuni dunia usaha. Meskipun ekonomi dunia saat ini makin berat dan sulit, saya berdiri teguh untuk menghadapi gempuran krisis pembeli itu, dan melewatinya hingga selamat di tujuan.
Sejatinya, saya ibarat domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Saya dituntut cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat 10: 16).
Tanpa memiliki kecerdikan, untuk selalu ‘eling lan waspada’ saya mudah diperdaya ke dalam jahat, dijatuhkan, dan terpuruk dalam sesal derita yang berkepanjangan.
Sebaliknya dengan bersikap cerdik, saya dituntut untuk menjalani dan melakukan seluruh aktivitas itu dengan jujur, tanpa beban, tulus, serta ikhlas hati.
Sebagai seorang tukang bangunan, saya tidak mau memperdaya dan membodohi pelanggan itu untuk menangguk keuntungan besar. Prinsip usaha saya, membangun kepercayaan untuk mencerahkan hati dan bahagia agar hubungan usaha itu makin memanjang serta langgeng.
Karena itu saya tidak pernah menolak order pekerjaan, baik proyek berskala besar atau kecil, karena rezeki itu harus selalu disyukuri.
Jika pemberi proyek itu tidak mau borongan, saya menawari kerja harian, dan bahan-bahannya itu disediakan. Bagi saya yang penting itu karyawan tidak menganggur, tapi bekerja.
Saya juga menawarkan harga-harga bahan yang kompetitif murah di tempat langganan untuk bahan perbandingan, sekaligus membantu pemasaran toko bangunan itu dengan imbalan komisi. Hasilnya adalah, saya juga sering diberi order pekerjaan dari toko material langganan saya.
Puji Tuhan, order pekerjaan itu tiada henti. Bersinergi itu mencerahkan hati.
…
Mas Redjo

