Karena yang sudah diajarkan oleh orangtuamu itu kau hapus tidak berbekas.
Yang sudah diajarkan Guru agamamu itu tidak ada yang tersimpan, karena kau kuburkan.
Yang sudah diajarkan para Guru spiritualmu itu tidak ada yang tersisa, karena kau buang.
Yang sudah diajarkan oleh para Gembalamu itu tidak ada yang mengesankan, karena kau singkirkan semuanya.
Ada apa?
“Aku tidak butuh Tuhan,” jawabmu.
“Aku bisa berdiri sendiri,” alasanmu.
“Aku bisa seperti Tuhan,” reaksimu.
“Aku bisa lebih hebat dari Tuhan,” katamu angkuh.
“Aku tidak perlu berdoa,” dengusmu sinis dalam menghayati kehidupan.
Kau seperti telah mengenggam dunia, larut, dan bahkan tenggelam dalam dunia itu. Bagimu, dunia telah jadi segala-galanya
Kau menertawakan mereka yang rajin ke Gereja. Kau mengejek mereka yang tekun berdoa. Juga menghina mereka yang percaya kepada Tuhan.
Semua itu konsekuensimu. Aku tidak mau menanggapi celotehmu, tertawaanmu. Aku tidak mundur, meski kau ejek dan hina. Aku tidak membencimu, tapi mengasihimu.
“Aku percaya, maka aku berkata-kata,” (2 Kor 4: 13) kata Santo Paulus
Mari kita buktikan yang berakhir bahagia nanti. Dia yang percaya atau dia yang tidak percaya? Dia yang mengandalkan Tuhan atau yang menyepelekan kuasa-Nya?
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

