Red-Joss.com – Apa pun bisnis dan profesinya, sesungguhnya kita diajak membangun budaya hidup jujur. Dengan fondasi kejujuran itu, kita dipercaya. Dengan bersyukur, kita hidup mujur.
Hidup jujur dan benar itu harus dipercayai dan diimani dengan kesungguhan hati agar kemujuran menyertai hidup ini.
Dengan bersikap jujur dan benar, jalan usaha maupun profesi kita seperti dibuka lebar, tanpa tantangan berarti, dan semua tampak lancar.
Hal itu terjadi dan biasa dialami oleh siapa pun yang miliki gaya hidup jujur dan benar dalam keseharian.
Bagi saya sendiri, kemujuran demi kemujuran itu bagai mimpi dan sebagai suatu kemustahilan.
Bagaimana tidak. Padahal saya tidak merasa hidup jujur dan benar. Tapi saya memiliki komitmen untuk memberi yang terbaik pada keluarga, sesama, dan dalam menjalin hubungan usaha yang baik dengan siapa pun.
Dengan pemasok barang, saya selalu komitmen untuk membayar hutang tepat waktu. Pembayaran pelanggan yang molor tidak pernah saya gunakan sebagai alasan menunda melunasi hutang. Bagi saya, cepat atau lambat hutang itu harus dibayar. Sehingga, lebih baik saya meminjam pada teman atau bank.
Dengan bersikap jujur dan terus terang pada pemasok barang, saya membangun kepercayaan untuk memudahkan pengembangkan usaha.
Sebaliknya, pelanggan yang tidak jujur itu ibarat ranting kering atau benalu yang harus dipotong dan dibakar. Karena tidak menghasilkan buah lagi.
Pelanggan yang bermasalah itu juga harus dilupakan agar tidak membebani pikiran, menguras energi, dan membuat kita jadi tidak produktif. Sehingga harus ditinggal dan dilupakan.
Caranya, dengan bersyukur kita belajar hidup ikhlas. Melepas tanpa kehilangan. Sekaligus membuka pintu rezeki. Kita bakal menuai kemujuran demi kemujuran itu.
Selamat datang keberuntungan.
…
Mas Redjo

