“Karena tidak mau hidup sekadar mampir ngombe, banyak orang yang makan untuk memuaskan egonya, hingga tenger-tenger.” -Mas Redjo
…
Diakui atau tidak, perut yang kekenyangan, karena banyak makan itu membuat kita jadi neg, mual, dan bahkan ingin muntah.
Faktanya, banyak orang sekadar memuaskan nafsu makan, karena aji mumpung; mempunyai banyak uang, ditraktir, atau datang di suatu pesta perjamuan. Tapi ada juga orang yang menolak istilah, hidup di dunia ini sekadar mampir ngombe. Sebab tanpa makan… perut ini pasti lapar!
Padahal mampir ngombe itu berarti, bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, dan fana. Banyak orang beranggapan, sayang sekali dan rugi besar, jika hidup ini disia-siakan. Lebih baik dimanfaatkan untuk bersenang-senang, meskipun cara yang digunakan itu salah atau menyimpang. Kita merasa pinter dan superior, tapi keblinger. Tersesat!
Ketika hidup ini sekadar mencari kesenangan berarti kita keblinger, tersesat untuk mengikuti dan menuruti ajakan si Jahat.
Hidup untuk mampir ngombe itu adalah kesempatan. Hidup yang sementara ini adalah peluang emas yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tujuannya agar hidup ini tidak disalah-gunakan dan disia-siakan, tapi untuk dimaknai. Hidup harus selalu diperbarui, dan makin baik. Karena kita diciptakan secitra dengan-Nya.
Bagi orang beriman, hidup yang sementara ini tidak dilenyapkan, tapi diubah. Kematian jasmani itu tidak memutuskan relasi kasih antara kita dengan Tuhan Sang Pencipta. Tapi makin mendekat eratkan dalam ikatan kasih-Nya yang abadi.
Sejatinya, tujuan utama kita dalam hidup ini adalah untuk memuliakan Tuhan!
Terpujilah Tuhan, sekarang dan selama-lananya.
…
Mas Redjo

