Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Sungguh betapa kokohnya sebuah pengharapan di dada batin sang manusia”
(Didaktika Hidup Beriman)
…
Sebuah Kisah Pilu
Mungkin banyak orang masih ingat sebuah kisah pilu tragedi karamnya sebuah kapal di laut lepas yang membawa banyak korban nyawa manusia. Tragedi manusia itu membawa luka batin dan trauma berkepanjangan bagi banyak orang yang dapat diselamatkan nyawanya.
Kisah pilu itu sangat membekas dan menyadarkan banyak orang, ketika mendengar atau membaca sepotong kesaksian bermakna dari seorang penumpang yang selamat hanya dengan memeluk erat sepotong kayu (balok) selama hampir dua hari dua malam terombang-ambing dipermainkan gelombang di samudra biru.
Hanya dengan Sekeping Pengharapan
Pria malang itu bertahan hidup hanya dengan memeluk erat sepotong kayu, sambil terus berdoa dan percaya, bahwa dirinya akan hidup.
Keyakinan teguh itu akhirnya terbukti. Secara ajaib, perlahan-lahan ia terseret arus ke bibir sebuah pantai yang sangat asing baginya.
Di bibir pantai itu tampak banyak orang yang sambil memekik dan menangis haru menyaksikan perjuangan pria yang beruntung itu.
Menyaksikan pemandangan yang meneguhkan hatinya itu, dia merasa tubuhnya seolah kian bertenaga. Sungguh, betapa pentingnya sepotong dukungan moral dan peneguhan dari sesama bagi orang yang bernasib malang dan menderita.
Setibanya di bibir pantai, disaksikannya puluhan atau ratusan orang yang turun ke bibir ombak serta siap untuk membopong dan memikul tubuh lemah tak berdaya itu. Sehingga tidak terasa mengalirlah butir-butir air mata, karena terharu. Ia lalu menyambut uluran tangan-tangan tulus itu dengan penuh syukur.
Seorang dengan spontan bertanya kepadanya, “Saudara, bagaimana mungkin Anda dapat selamat hingga ke daratan ini. Apa rahasia kekuatan saudara?”
Diakuinya, bahwa pada mulanya dia merasa hampir tak dapat menjawab pertanyaan itu. Dengan suara terbata dan tersendat di balik rasa syukur dan bahagia, lalu dijawabnya:
“Di saat duka dan kecemasan panjang itu, saya tetap berpikir, bahwa saya akan tetap hidup. Saya tidak pernah berpikir mati, walaupun saya sempat melihat banyak jenazah yang mengambang dipermainkan gelombang. Di dada batin saya tetap ada sepotong pengharapan!”
Dasyatnya Pengharapan di Dada
Setelah mencermati saksama kisah pilu tragedi karamnya sebuah kapal ini, apa yang terbetik dan menggetarkan batin Anda? Adakah sepotong didaktika kehidupan yang dapat dijadikan sebagai sebuah pegangan? Spirit dahsyat apa yang menggayut di dada Anda? Apakah ada getaran kesadaran yang kian menggoyahkan ataukah justru kian meneguhkan keyakinan hidup Anda akan pentingnya sepotong pengharapan di dalam seluruh ziarah hidup ini?
Manusia boleh kehabisan makanan dan minuman, atau ketiadaan pakaian dan tumpangan. Tapi saya sungguh yakin, bahwa di saat itu Anda akan tetap hidup nyaman dan aman. Namun, lain halnya, jika di dada batin Anda sudah tiada sekeping pengharapan itu. Sungguh, betapa pentingnya harapan hidup di dada batin manusia.
Sejatinya, di balik sekeping pengharapan di dada itu berarti, bahwa Anda tetap percaya dan yakin adanya Sang Sumber Pengharapan itu. Dialah Tuhan, sumber asal, tujuan hidup, dan mati kita!
“Akulah Alfa dan Omega!”
In Te Confido!
…
Kediri, 14 Januari 2025

