Lk 3:15-16,21-22
Pada pesta Pembaptisan Putra-Mu ini, kami sejenak merenungkan karunia baptisan kami sendiri yang sangat dalam. Gereja mula-mula menyebutnya “vitae spiritualis ianua” – pintu kehidupan rohani, karena melalui Sakramen ini, kami tidak sekadar diundang untuk menjalani kehidupan yang baik secara moral, tapi juga untuk diubahkan: ditarik ke dalam kehidupan Ilahi-Mu.
Bapa, kekristenan ternyata bukan hanya tentang bersikap baik atau melakukan hal yang benar, sebab banyak orang dengan keyakinan dan latar belakang yang berbeda hidup dengan baik. Melainkan, jadi seorang Kristen itu mempunyai arti yang lebih dalam: dicangkokkan kepada Kristus, jadi bagian dari Tubuh Mistik-Nya. Kami tidak sekadar dipanggil untuk meniru-Nya, tapi untuk hidup di dalam Dia, bersatu dengan hidup-Nya dan kuat kuasa-Nya.
Bantulah kami untuk memahami kuasa dibaptis “dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.” Misteri ini menyingkapkan, bahwa kami ditarik ke dalam hubungan kasih yang kekal di dalam Tritunggal Mahakudus. Baptisan bukan sekadar simbol, melainkan kenyataan – undangan untuk berpartisipasi dalam kehidupan Ilahi-Mu, yang dimungkinkan oleh pencurahan Roh-Mu.
Saat Yesus berdiri di tepi Sungai Yordan, Engkau mengurapi-Nya dengan Roh Kudus dan menyatakan identitasNya: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Dia-lah Hamba yang dinubuatkan oleh Yesaya, yang diurapi untuk membawa keadilan, kebebasan, dan penyembuhan bagi dunia yang rusak. Dia-lah Mesias sejati, keturunan Daud yang telah lama dinantikan, yang membawa Roh-Mu dalam kepenuhannya.
Namun, dalam kerendahan hati-Nya, Yesus memilih untuk memasuki air baptisan itu bukan untuk kebutuhanNya sendiri, melainkan untuk kebutuhan kami. Meskipun tanpa dosa, Ia melangkah ke sungai, mengidentifikasi diri-Nya dengan kami orang berdosa, menguduskan air untuk semua generasi. Ia menjadikan baptisan sebagai jalan menuju penyembuhan, kebebasan, dan kehidupan kekal.
Melalui baptisan Putra-Mu, Engkau menyatakan kedalaman kasih-Mu. Ia mengambil kemanusiaan kami, menanggung dosa-dosa kami, dan suatu hari akan pergi ke kayu salib untuk menebus kita dari kematian. Baptisan-Nya merupakan gambaran dari kasih yang rela berkorban yang akan dicurahkan-Nya sepenuhnya untuk keselamatan kita.
Tuhan, saat kami mengenang baptisan kami sendiri hari ini, penuhi kami kembali dengan api Roh-Mu. Berilah kami kekuatan untuk menolak dosa dan dengan berani mengikuti Putra-Mu. Bebaskan kami dari kesombongan, kemalasan, dan ketidakpedulian, sehingga kami dapat berjalan dalam kerendahan hati dan kasih yang rela berkorban yang dicontohkan oleh Kristus. Semoga kami hidup sebagai anak-anak-Mu yang terkasih, setia pada kasih karunia yang telah kami terima.
Ya, Yesus, Engkaulah Juru Selamat dan Penebusku. Aku milikMu. Kuatkanlah kami untuk menjalani hidup setiap hari dalam kuasa baptisan kami. Amin.
…
HD
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

